BORNEONEWS, Palangka Raya – PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk atau SSMS mendorong perusahaan perkebunan kelapa sawit lainnya, khususnya yang telah mengantongi sertifikasi Roundtable on Sustainable Palm Oil atau RSPO, untuk turut berperan dalam upaya konservasi satwa terancam punah.
Direktur Sustainability SSMS, Henky Satrio Wibowo, mengatakan upaya pelestarian satwa tidak seharusnya hanya menjadi tanggung jawab lembaga konservasi. Perusahaan juga dapat mengambil bagian melalui program perlindungan dan pelestarian satwa liar.
Hal tersebut disampaikannya saat kegiatan kunjungan buyer dari Jepang dan Belgia bersama petani sawit swadaya ke kawasan konservasi Pulau Salat, Kalimantan Tengah, Jumat lalu.
Menurut Henky, kunjungan tersebut menjadi kesempatan untuk memperlihatkan secara langsung bahwa perusahaan perkebunan kelapa sawit juga memiliki program konservasi orangutan melalui kerja sama dengan Borneo Orangutan Survival Foundation atau BOSF.
“Kami ingin menginformasikan kepada masyarakat bahwa perusahaan kelapa sawit juga memiliki program konservasi orangutan bersama BOSF,” ujarnya.
Ia berharap langkah tersebut dapat mendorong perusahaan lain, terutama perusahaan yang telah tersertifikasi RSPO, untuk menjalankan program serupa. Tidak hanya untuk orangutan, tetapi juga satwa lain yang terancam punah.
Henky menyebut, upaya konservasi dapat diarahkan pada perlindungan berbagai jenis satwa, seperti badak, harimau, maupun kelompok primata yang keberadaannya semakin terancam.
"Kami mengapresiasi kehadiran para petani sawit swadaya dan buyer yang ikut dalam kunjungan ke Pulau Salat," tambah Henky.
Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi momentum baik untuk memperkenalkan upaya konservasi yang dilakukan SSMS bersama BOSF.
Pulau Salat sendiri merupakan kawasan konservasi yang dikelola SSMS bersama BOSF dengan luas sekitar 2.000 hektare, meliputi Pulau Badak Besar dan Pulau Badak Kecil. Kawasan tersebut diperuntukkan bagi konservasi dan tidak digunakan untuk penanaman kelapa sawit.(TESTI PRISCILLA)









