**Borneonews - Jakarta**, Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) menegaskan bahwa saat ini perlu menunggu bukti-bukti yang sesuai dengan fakta terkait insiden yang menewaskan tujuh remaja. Mereka diduga terjatuh ke dalam sungai akibat menceburkan diri saat akan terlibat tawuran, karena merasa ketakutan terhadap keberadaan patroli polisi.
Komisioner Kompolnas, Poengky Indarti, menyampaikan bahwa pihaknya masih menunggu konfirmasi fakta-fakta yang terkait dengan kejadian tersebut. Dalam pengungkapannya di Jakarta, Poengky menggarisbawahi tanggung jawab polisi dalam menjalankan tugasnya, termasuk pencegahan kejahatan serta menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat (harkamtibmas) melalui kegiatan patroli. Ia juga menyatakan dukungannya terhadap pelaksanaan patroli yang dilakukan secara rutin oleh pihak kepolisian.
Demi mendukung upaya pencegahan, Poengky mengingatkan agar para orang tua dapat berperan aktif dalam mengawasi anak-anak mereka agar tidak terlibat dalam perilaku nakal, seperti tawuran, begal, atau konvoi yang dapat mengganggu ketenangan masyarakat.
Lebih lanjut, Poengky mendesak Polda Metro Jaya dan Polres Metro Bekasi untuk melaksanakan penyelidikan dengan melibatkan proses *scientific crime investigation* guna memastikan kevalidan hasil investigasi. Ia menekankan agar dalam melaksanakan pemeriksaan, dapat dilakukan dengan hati-hati dan tidak tergesa-gesa, serta melibatkan pihak-pihak ahli yang diperlukan.
Di tengah situasi tersebut, Poengky meminta masyarakat untuk bersabar sembari menunggu hasil pemeriksaan. Ia percaya bahwa Polda Metro Jaya akan transparan dalam upaya mengungkap peristiwa ini. Kompolnas juga akan terus memantau penanganan kasus tersebut. Ia mengimbau kepada keluarga korban yang merasa kehilangan anggota keluarganya yang diduga termasuk dalam tujuh jenazah tersebut untuk segera melapor ke Rumah Sakit Polri Kramat Jati agar semua dapat diidentifikasi dengan jelas.
Sementara itu, pihak kepolisian mengkonfirmasi bahwa jenazah tujuh remaja pria yang ditemukan di Kali Bekasi, khususnya di Perumahan Pondok Gede Permai, Kecamatan Jatiasih, Kota Bekasi, Jawa Barat, adalah pelaku tawuran. Kapolda Metro Jaya, Irjen Polisi Karyoto, memastikan bahwa ketujuh remaja tersebut terlibat dalam tawuran yang terjadi pada Sabtu (21/9) dini hari.
Karyoto menjelaskan bahwa mereka menceburkan diri ke sungai karena panik menghadapi keberadaan patroli yang melintas. Ia menegaskan bahwa pihaknya sedang mendalami sejauh mana keterlibatan polisi dalam menegur mereka.
Mengacu pada pengakuan dari teman-teman korban yang berhasil ditangkap, Kapolda menyatakan bahwa mereka berencana merayakan ulang tahun. Namun, tim penyelidik tidak menemukan bukti berupa kue ulang tahun, melainkan hanya senjata tajam (sajam) yang ada di lokasi. Karyoto mempertanyakan logika perayaan tersebut, mengingat kondisi di lokasi yang tidak layak dijadikan tempat perayaan ulang tahun.
ANTARA
Kompolnas Tunggu Bukti Kasus Tujuh Remaja Tewas di Sungai
Bagikan:

JAKARTA –
Komentar0
Jadilah yang pertama membagikan
Bagikan:

Berita Terkait
Penyidikan Kasus Korupsi SKIPI, KPK Tunggu Perhitungan Kerugian
Polisi Sita Barang Bukti Kasus Judol Senilai Rp167 Miliar
Dukungan Kompolnas Terhadap Sanksi Anggota Polisi Positif Narkoba
Kompolnas Tekankan Pentingnya Netralitas TNI/Polri di Papua
Kompolnas Dukung Pengungkapan Judol yang Libatkan Oknum Komdigi
Kompolnas Minta Polda Selidiki Latar Belakang Polisi Tembak Polisi
Komentar (0)
Memuat komentar…







