BORNEONEWS, Sampit – Hujan deras yang mengguyur Kota Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Rabu (28/10/2026), belum mampu menurunkan kadar garam air Sungai Mentaya. Salinitas air baku yang digunakan Perumdam Tirta Mentaya Sampit masih mencapai 4.700, sehingga air yang didistribusikan kepada masyarakat hanya diperuntukkan bagi kebutuhan mandi, cuci, kakus (MCK).
Kepala Bagian Teknik Perumdam Tirta Mentaya Sampit, Edy Dyufriadi, mengatakan hujan yang turun di wilayah Sampit dan sekitarnya belum memberikan perubahan berarti terhadap kondisi air baku.
“Harapan kita, kalau memang bulan November ini sudah bisa hujan, ya hujan yang di hulu sana,” kata Edy, Kamis (29/10/2026).
Kondisi ini membuat warga masih harus mencari sumber air lain untuk memenuhi kebutuhan konsumsi sehari-hari. Terlebih, belum diketahui kapan kualitas air Sungai Mentaya dapat kembali normal karena penurunannya sangat bergantung pada curah hujan di wilayah hulu.
Menurutnya, hujan dengan intensitas memadai sangat dibutuhkan, terutama di daerah hulu Sungai Mentaya. Aliran air tawar dari wilayah tersebut diharapkan mampu mendorong intrusi air laut yang masuk ke sungai.
Ia menjelaskan, hujan yang hanya mengguyur wilayah perkotaan belum cukup untuk menurunkan kadar garam. Terlebih, kondisi tanah yang masih kering membuat air hujan terlebih dahulu meresap ke dalam tanah sebelum mengalir ke sungai.
“Kemarin kan hujannya hanya sekitar-sekitar ini saja. Tapi di hulu sana tidak hujan, sama saja sebenarnya,” jelasnya.
Edy menambahkan, hujan yang turun dalam waktu singkat, misalnya hanya sekitar 10 menit, belum tentu berdampak signifikan terhadap kualitas air baku. Penurunan kadar garam sangat bergantung pada intensitas hujan serta luas wilayah yang diguyur, terutama di bagian hulu.
Ia mengungkapkan, intrusi air laut saat ini telah mencapai sekitar 105 kilometer dari Laut Ujung Pandaran. Kondisi tersebut menunjukkan besarnya pengaruh air laut terhadap kualitas air Sungai Mentaya yang menjadi sumber air baku bagi masyarakat Sampit.
“Kadar salinitas air saat ini berada di angka 4.700, sedangkan batas yang disebut untuk air layak dikonsumsi berada di bawah 500,” ungkapnya.
Tingginya kadar garam tersebut menjadi perhatian karena air yang belum memenuhi persyaratan kualitas tidak boleh dianggap aman untuk diminum. Edy juga mengingatkan potensi dampak kesehatan apabila air dengan kadar garam tinggi dikonsumsi, khususnya oleh masyarakat yang memiliki penyakit bawaan.
“Dampak negatifnya adalah satu tekanan darah tinggi, pencernaan, apalagi kalau sudah ada di dalam tubuhnya penyakit bawaan,” ujarnya.
Di tengah kondisi tersebut, Perumdam Tirta Mentaya berupaya mencari alternatif pasokan air untuk membantu memenuhi kebutuhan masyarakat. Salah satunya dengan memanfaatkan sumber air di Kecamatan Kota Besi yang mulai digunakan untuk mendukung pengisian tangki.
Perumdam juga menggunakan kapal jenis landing craft tank (LCT) untuk mengangkut air dalam jumlah lebih besar dibandingkan menggunakan tangki biasa. Langkah ini dilakukan untuk membantu memenuhi kebutuhan air masyarakat, khususnya warga di seberang Sungai Mentaya.
Meski demikian, upaya distribusi air masih menghadapi sejumlah kendala. Biaya pengangkutan yang tidak sedikit serta keterbatasan armada tangki membuat pelayanan belum mampu memenuhi seluruh kebutuhan masyarakat secara maksimal.
Situasi ini terutama dirasakan warga yang kesulitan mendapatkan air layak konsumsi dan tidak mampu terus-menerus membeli air minum dalam kemasan maupun air galon. (DEVIANA/H)









