BORNEONEWS, Jakarta – Princeton Digital Group (PDG), perusahaan pengembang dan operator pusat data (data center), berencana memperluas penggunaan bahan bakar nabati Hydrotreated Vegetable Oil (HVO) di seluruh operasional pusat datanya di Indonesia sebagai bagian dari upaya mengurangi emisi karbon.

“Sejak menandatangani kemitraan strategis pada September 2025, kami secara bertahap memperluas penggunaan HVO di seluruh operasional kami di Indonesia, dengan mempertimbangkan ketersediaan bahan bakar, kesiapan operasional, serta kinerja yang berkelanjutan,” ujar Group Head of Energy and Environment Princeton Digital Group Michael Martin dalam wawancara tertulis, Selasa 3 November 2027.

Indonesia menjadi pasar pertama dalam portofolio global PDG yang menerapkan penggunaan bahan bakar nabati HVO melalui kemitraan dengan PT Pertamina Patra Niaga.

Kemitraan strategis yang ditandatangani pada September 2025 tersebut merupakan bagian dari upaya perusahaan mengurangi emisi karbon yang dihasilkan dari operasional pusat data.

Michael menjelaskan, hasil uji coba menunjukkan bahwa HVO dapat digunakan sebagai pengganti langsung (drop-in replacement) bahan bakar diesel pada generator cadangan tanpa memerlukan modifikasi konfigurasi mesin maupun penambahan infrastruktur.

“Kinerja generator tetap stabil tanpa perubahan pada konfigurasi mesin maupun infrastruktur tambahan. Hal ini menunjukkan bahwa kami dapat mengurangi emisi dari pembangkit listrik cadangan tanpa mengorbankan keandalannya,” katanya.

Menurut Michael, hasil uji coba tersebut memberikan keyakinan kepada perusahaan untuk meningkatkan penggunaan HVO sebagai salah satu solusi pengurangan emisi dari pembangkit listrik cadangan.

Ia mengakui bahwa harga HVO saat ini sekitar 10–15 persen lebih tinggi dibandingkan diesel berbasis fosil. Meski demikian, selisih biaya tersebut masih dapat dikelola karena generator cadangan di pusat data umumnya hanya beroperasi untuk pengujian rutin dan saat terjadi gangguan pasokan listrik.

Dengan demikian, biaya bahan bakar generator cadangan hanya mencakup sebagian kecil dari keseluruhan biaya operasional pusat data.

Selain penggunaan HVO, PDG juga menjajaki pemanfaatan sumber energi terbarukan lainnya, termasuk panas bumi dan tenaga surya, untuk memenuhi kebutuhan listrik pusat data.

Michael menyebutkan bahwa operasional PDG di Indonesia telah didukung sertifikat atribut energi (energy attribute certificate/EAC) yang merepresentasikan penggunaan listrik dari pembangkit listrik tenaga panas bumi Kamojang.

Perusahaan juga memanfaatkan energi biomassa melalui kemitraan dengan PT Cikarang Listrindo di kampus pusat data Cibitung.

“Meningkatkan penggunaan energi bersih di Indonesia tetap menjadi prioritas kami, dan kami terus menjajaki kemitraan energi terbarukan lainnya,” ujar Michael.

SUMBER: ANTARA