BORNEONEWS, BADUNG – Pemerintah Indonesia menargetkan penyediaan 10.600 unit alat diagnostik molekuler untuk mendeteksi tuberkulosis (TBC) pada 2027. Langkah ini merupakan bagian dari upaya mempercepat penemuan kasus dan penanggulangan penyakit TBC di Tanah Air.

Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mengatakan, pemerintah telah memulai penerapan program skrining TBC dengan pendekatan baru sejak 2026. Hal tersebut disampaikannya dalam forum The 40th Stop TB Partnership Board Meeting 2026 di Sunset Road, Kabupaten Badung, Bali, Kamis (5/11/2026).

Menurut Budi, hingga akhir 2026 pemerintah menargetkan sekitar 4.000 unit alat diagnostik molekuler near point of care (NPOC) tersedia. Jumlah tersebut selanjutnya akan ditingkatkan menjadi 10.600 unit pada 2027.

"Menjelang akhir tahun 2026, kita akan memiliki sekitar 4.000 perangkat diagnostik molekuler near point of care, yang jumlahnya akan ditingkatkan menjadi 10.600 unit. Perangkat ini akan didistribusikan ke puskesmas-puskesmas yang tersebar di 7.000 pulau untuk melayani 290 juta penduduk Indonesia," kata Budi.

Alat diagnostik tersebut akan didistribusikan ke fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama, termasuk puskesmas, guna memperluas akses pemeriksaan TBC bagi masyarakat di berbagai wilayah Indonesia.

Selain meningkatkan ketersediaan alat, pemerintah juga berupaya menekan biaya pemeriksaan molekuler. Dengan dukungan Global Fund, biaya pemeriksaan saat ini telah turun menjadi 3,6 dolar AS per tes. Pemerintah menargetkan biaya tersebut dapat ditekan hingga di bawah 3 dolar AS mulai 2027.

Upaya penguatan skrining juga dilakukan melalui perluasan penggunaan mesin rontgen. Pada 2026, pemerintah telah memasang 800 unit mesin rontgen portabel dan bergerak (mobile). Jumlah tersebut direncanakan bertambah sebanyak 4.000 unit pada 2027.

Selanjutnya, pada 2028 pemerintah menargetkan sebanyak 10.000 puskesmas di Indonesia telah dilengkapi mesin rontgen yang didukung teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

"Tahun ini, kita telah memasang 800 unit mesin sinar-X, baik yang bersifat portabel maupun mobile. Tahun depan, kita akan menambah 4.000 unit lagi, sehingga pada tahun 2028, seluruh puskesmas, yang berjumlah 10.000 unit, akan dilengkapi dengan mesin sinar-X berteknologi kecerdasan buatan (AI) untuk melakukan skrining tuberkulosis di 7.000 pulau berpenghuni tersebut," ujar Budi.

Budi berharap kombinasi pemeriksaan rontgen berbasis AI dan diagnostik molekuler dapat meningkatkan penemuan kasus TBC secara signifikan.

Pemerintah menargetkan kapasitas skrining mampu menjangkau sekitar 10 juta orang atau setara dengan 10 kali estimasi beban kasus TBC di Indonesia. Pemeriksaan tersebut akan dilakukan melalui fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama, khususnya puskesmas.

Menurut Budi, perluasan skrining menjadi langkah penting untuk menemukan penderita TBC sedini mungkin sehingga mereka dapat segera memperoleh pemeriksaan lanjutan dan pengobatan yang sesuai.

"Kami berharap dapat melakukan skrining terhadap sekitar 10 juta orang—jumlah yang setara dengan 10 kali lipat estimasi beban kasus TBC di Indonesia—menggunakan mesin sinar-X dan diagnostik molekuler di tingkat puskesmas. Saya berharap upaya ini akan meningkatkan angka penemuan kasus TBC, baik untuk TBC aktif maupun TBC non-klinis," katanya.

Melalui penambahan alat diagnostik molekuler, mesin rontgen berbasis AI, serta perluasan fasilitas skrining, pemerintah berharap penemuan kasus TBC di berbagai wilayah Indonesia semakin meningkat dan akses masyarakat terhadap diagnosis serta pengobatan dapat semakin luas.

SUMBER: ANTARA