BORNEONEWS, Sampit - Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) mengaktifkan Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS 3R) di tiga kecamatan untuk memangkas biaya pengangkutan sampah menuju tempat pembuangan akhir (TPA) di Sampit. Program ini diprioritaskan di Kecamatan Parenggean, Mentaya Hilir Selatan, dan Kota Besi.
"Saat ini kita sudah mulai bergerak untuk TPS 3R yang di Parenggean, insyaallah bulan depan sudah operasional. Parenggean sudah ada kepengurusan," kata Kepala DLH Kotim, Gusti Mukafi, Minggu, 25 Oktober 2026.
Pengaktifan TPS 3R menjadi salah satu langkah DLH Kotim untuk mendekatkan pengolahan sampah ke sumbernya. Program ini sangat penting untuk wilayah yang berjarak cukup jauh dari Sampit karena pengangkutan sampah ke TPA membutuhkan biaya dan dukungan operasional besar.
Parenggean menjadi salah satu wilayah yang diprioritaskan karena berada di kawasan utara Kotim. Setelah fasilitas di kecamatan tersebut siap beroperasi, DLH akan melanjutkan program serupa di Mentaya Hilir Selatan dan Kota Besi.
Gusti mengatakan, kedua kecamatan tersebut juga memiliki fasilitas TPS 3R yang akan diaktifkan kembali. DLH menargetkan pengoperasian ketiga fasilitas itu dapat dimulai secara bertahap pada tahun ini.
"Kita akan mengaktifkan kembali TPS 3R yang ada di Mentaya Hilir Selatan, kemudian kita akan ke Kecamatan Kota Besi, di sana ada juga TPS 3R. Kita membentuk pengurus di sana, karena komunitas pemerhati sampah ini kan harus kita bentuk," ujarnya.
Ia menjelaskan, TPS 3R tidak sekadar menjadi tempat penampungan sementara seperti depo sampah. Fasilitas ini dirancang untuk mengolah sampah dengan menerapkan pemilahan sejak awal agar sampah organik dan anorganik tidak tercampur.
Sampah plastik dan material anorganik lainnya dapat dipisahkan untuk ditangani sesuai jenisnya. Sementara itu, sampah organik dikelola secara terpisah sehingga bisa dimanfaatkan kembali, misalnya menjadi pupuk.
Dengan cara tersebut, sampah yang harus dibawa ke TPA di Sampit diharapkan berkurang. Selain menghemat kebutuhan angkutan, pemilahan juga membuka peluang pemanfaatan sampah yang masih memiliki nilai guna.
Namun, sebelum beroperasi optimal, sejumlah peralatan di TPS 3R masih perlu dievaluasi. DLH mencatat ada alat pengolahan yang belum berfungsi maksimal, seperti mesin pencacah sampah yang perlu diperiksa kembali.
DLH Kotim akan memusatkan perhatian pada tiga kecamatan tersebut terlebih dahulu. Hasil pelaksanaan program akan menjadi bahan evaluasi sebelum pihaknya mempertimbangkan pengembangan TPS 3R ke wilayah lainnya.
Ia berharap keberadaan fasilitas itu dapat mengurangi volume sampah yang berakhir di TPA, menekan biaya pengangkutan, sekaligus mendorong masyarakat membiasakan pemilahan sampah dari rumah.
"Untuk ini kita di tiga kecamatan itu dulu. Kalau ini berhasil, nanti baru kecamatan-kecamatan yang lain," pungkasnya. (DEWI PATMALASARI/H)









