BORNEONEWS, Banyumas - Menteri Koperasi Ferry Juliantono mendorong Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) menjadi agen pengumpul minyak jelantah untuk mendukung pengembangan bahan bakar pesawat berkelanjutan atau Sustainable Aviation Fuel (SAF) sekaligus meningkatkan pendapatan koperasi.

“Seluruh KDKMP yang siap beroperasi akan kita dorong menjadi agen pengumpul minyak jelantah untuk dijual kepada PT Pertamina Patra Niaga, yang selanjutnya diolah menjadi bahan bakar pesawat udara berkelanjutan,” kata Ferry dalam peluncuran proyek percontohan pengumpulan minyak jelantah melalui koperasi di Desa Dawuhan, Kecamatan Banyumas, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Kamis 29 Oktober 2026.

Peluncuran program tersebut ditandai dengan penandatanganan kerja sama antara Kementerian Koperasi dan PT Pertamina (Persero) oleh Ferry Juliantono dan Direktur Utama Pertamina Simon Aloysius Mantiri.

Ferry menjelaskan, proyek percontohan tersebut melibatkan empat KDKMP di Kabupaten Banyumas. Minyak jelantah yang terkumpul nantinya akan disetorkan ke kilang Pertamina di Cilacap untuk diolah menjadi bahan bakar penerbangan atau aviation turbine fuel (avtur).

Usai acara, Ferry berharap program tersebut dapat menjadi model pengumpulan minyak jelantah yang diterapkan di seluruh KDKMP di Indonesia. Menurut dia, minyak jelantah memiliki nilai ekonomis sehingga dapat menjadi sumber pendapatan tambahan bagi koperasi.

Dalam skema yang direncanakan, koperasi akan membeli minyak jelantah dari masyarakat dengan harga Rp5.000 hingga Rp6.000 per liter. Selanjutnya, minyak tersebut dijual kepada Pertamina Patra Niaga dengan harga Rp6.500 hingga Rp7.000 per liter.

“Jadi ada selisih pendapatan yang bisa dijadikan tambahan pendapatan dari Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih,” ujarnya.

Selain memberikan manfaat ekonomi, program tersebut juga diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga lingkungan. Ferry mengatakan, satu liter minyak jelantah yang dibuang sembarangan berpotensi mencemari hingga satu juta liter air bersih.

Karena itu, ia meminta pengurus koperasi mengumpulkan minyak jelantah dari berbagai sumber, mulai dari rumah tangga, pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), hingga Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

Untuk mendukung pelaksanaannya, Ferry membuka peluang dukungan permodalan bagi koperasi melalui Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB) Koperasi maupun program tanggung jawab sosial perusahaan (corporate social responsibility/CSR) Pertamina. Dukungan tersebut diharapkan dapat membantu koperasi membeli minyak jelantah dari masyarakat.

Ferry juga mengapresiasi dukungan Pertamina dalam pelaksanaan program tersebut. Ia berharap kerja sama itu dapat memperkuat usaha koperasi, mendorong penerapan ekonomi sirkular, serta mendukung kemandirian energi nasional.

Menurut Ferry, pengembangan bahan bakar penerbangan berbahan baku minyak jelantah tidak hanya berpotensi memenuhi kebutuhan avtur dalam negeri, tetapi juga membuka peluang ekspor.

SUMBER: ANTARA