BORNEONEWS, Pangkalan Bun – Tradisi manugal padi yang menjadi bagian dari kearifan lokal masyarakat Kalimantan Tengah kembali dilestarikan. Kali ini, kegiatan tersebut dilaksanakan di kawasan Wana Wiyata Widya Karya Kelompok Tani Hutan (KTH) Meniti Fajar, Kilometer 24.
Manugal merupakan tradisi bercocok tanam yang telah diwariskan secara turun-temurun. Selain menjadi bagian dari proses menanam padi, kegiatan ini juga sarat nilai gotong royong dan menjadi sarana mempererat kebersamaan antarwarga.
Dalam prosesi manugal, kaum laki-laki dan perempuan memiliki peran masing-masing. Para pria berada di barisan depan dengan tugas membuat lubang pada tanah menggunakan tongkat kayu runcing yang disebut tugal atau panundang.
Lubang dibuat dengan kedalaman sekitar 3 hingga 5 sentimeter. Sementara kaum perempuan mengikuti dari belakang untuk memasukkan atau menaburkan benih padi ke dalam lubang yang telah dibuat.
Seluruh proses dilakukan secara bergotong royong dan bergiliran antarwarga maupun kerabat. Setelah kegiatan selesai, warga melanjutkannya dengan makan bersama sebagai bentuk rasa syukur sekaligus mempererat silaturahmi dan kerukunan.
Ketua KTH Meniti Fajar, Sarwani, mengatakan kegiatan manugal padi tersebut dilaksanakan di lahan bekas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang sebelumnya telah ditanami kopi dan semangka.
"Untuk optimalisasi lahan, kita laksanakan manugal padi yang menjadi bagian dari kearifan lokal dan tradisi ini turun-temurun dilaksanakan oleh masyarakat," ujar Sarwani.
Menurutnya, padi yang ditanam merupakan varietas tampui. Jenis tersebut dipilih karena memiliki keunggulan tahan terhadap penyakit dan mampu bertahan dalam kondisi kekurangan air.
Tradisi manugal ini mendapat antusiasme tinggi dari masyarakat. Sekitar 75 warga dari Kelurahan Raja Seberang dan Trans Swasta Mandiri turut ambil bagian dalam kegiatan tersebut.
Sri, salah seorang warga Raja Seberang, mengatakan manugal merupakan warisan leluhur yang harus terus dijaga dan dilestarikan. Menurutnya, kegiatan tersebut juga menjadi wujud nyata kebersamaan dan gotong royong masyarakat.
"Kita bisa bersilaturahmi dan inilah gotong royong yang sebenarnya. Kita bersama-sama warga larut dalam canda tawa saat manugal," kata Sri.
Melalui tradisi manugal padi, KTH Meniti Fajar bersama masyarakat tidak hanya berupaya mengoptimalkan pemanfaatan lahan dan mendukung ketahanan pangan, tetapi juga menjaga kearifan lokal agar tetap hidup dan diwariskan kepada generasi berikutnya. (ARIEF/R)









