PANGKALAN BUN – BORNEONEWS, Palangka Raya – Pengembangan usaha perikanan kelompok perhutanan sosial tidak cukup hanya mengandalkan keterampilan budidaya. Penguatan akses pasar, peningkatan nilai tambah produk, hingga kemampuan sumber daya manusia menjadi faktor penting untuk menjaga keberlanjutan usaha.

Hal tersebut disampaikan Akhmad Riva’i, Analis Akuakultur Ahli Madya dari Balai Perikanan Budidaya Air Tawar atau BPBAT Mandiangin, setelah memberikan pelatihan budidaya perikanan air tawar kepada kelompok Hutan Kemasyarakatan atau HKm di Desa Tanjung Tarantang, Kabupaten Kotawaringin Barat.

Akhmad menyambut baik antusiasme peserta selama pelatihan. Ia berharap pengetahuan yang diperoleh dapat diterapkan sesuai kondisi dan kebutuhan masing-masing kelompok. Ia juga mendorong pengembangan usaha perikanan yang ramah lingkungan, termasuk mempertimbangkan kondisi lingkungan dalam menentukan jenis ikan yang dibudidayakan.

Menurutnya, keberlanjutan usaha harus didukung penguatan akses pasar, peningkatan nilai tambah produk, serta pengembangan kapasitas sumber daya manusia melalui pembelajaran daring maupun luring.

“Inovasi dan kegigihan menjadi kunci dalam mengembangkan usaha budidaya perikanan secara berkelanjutan,” ujarnya dalam rilis kepada Borneonews pada Senin, 2 November 2026.

Dept Head of Sustainability SSMS, Andri Najiburrahman, mengatakan pengembangan usaha berbasis potensi lokal merupakan bagian dari upaya perusahaan memperkuat pemberdayaan masyarakat di sekitar wilayah operasional.

“Bagi SSMS, keberlanjutan tidak hanya berkaitan dengan pengelolaan lingkungan, tetapi juga bagaimana masyarakat memiliki kesempatan untuk mengembangkan potensi ekonomi di wilayahnya. Melalui program ini, kami mendorong kelompok perhutanan sosial untuk memperkuat pengetahuan dan keterampilan agar usaha yang dikembangkan dapat dikelola secara mandiri dan berkelanjutan,” ujar Andri.

Pelatihan tersebut diselenggarakan PT Menteng Kencana Mas (PT MKM), unit bisnis PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk (SSMS), pada 13–14 Oktober 2026. Kegiatan yang merupakan bagian dari program Remediation and Compensation Plan (RaCP) itu diikuti 16 peserta dari HKm Mawar Bersemi, HKm Tani Sejati, dan HKm Danau Seluluk Jaya.

Dalam pelatihan tersebut, peserta mendapatkan materi teknik budidaya ikan air tawar, sistem bioflok, pemanfaatan pakan alternatif, hingga teknik pemijahan. Pembelajaran juga dilengkapi praktik menghitung kebutuhan pakan harian, memeriksa kondisi fisik ikan, mengevaluasi sarana budidaya, serta mengidentifikasi jenis kelamin ikan nila dan papuyu.

Pengembangan usaha masing-masing kelompok juga mulai menunjukkan arah yang berbeda. HKm Mawar Bersemi telah mengelola lima kolam ikan nila dan patin, dengan tiga kolam untuk budidaya dan dua lainnya dikembangkan menjadi usaha pemancingan. Sepanjang 2026, kelompok ini mencatat akumulasi nilai penjualan ikan sebesar Rp79 juta.

Sementara itu, HKm Tani Sejati berencana mengembangkan budidaya ikan menggunakan sistem bioflok dengan menyiapkan tiga kolam terpal. Melalui program RaCP, PT MKM mendukung pengembangan usaha kelompok dampingan sesuai potensi lokal dan kebutuhan masing-masing, sebagai bagian dari upaya memperkuat ekonomi masyarakat melalui pemanfaatan sumber daya secara bertanggung jawab.(TESTI PRISCILLA/y)