BORNEONEWS, Palangka Raya – Anggota Komisi II DPRD Palangka Raya, Tantawi Jauhari, mengusulkan agar bekas galian C, khususnya di kawasan pasir putih dan tanah urug, dapat ditata menjadi embung atau lokasi cadangan air untuk mendukung penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Menurutnya, aktivitas penggalian selama ini cenderung dilakukan di sejumlah titik secara terpisah sehingga meninggalkan lubang-lubang yang tidak terintegrasi.
Ia menilai, daripada bekas galian dibiarkan begitu saja, kawasan tersebut lebih baik direncanakan dan ditata menjadi tempat penampungan air yang dapat dimanfaatkan masyarakat maupun petugas pemadam saat karhutla.
“Jangan sampai gali sana, gali sini, akhirnya bolong-bolong. Kalau bisa, bekas galian itu dibuat menjadi embung atau tempat cadangan air yang terintegrasi,” ujarnya, Selasa, 3 November 2026.
Tantawi mencontohkan wilayah Kelurahan Sebangau yang dapat menjadi salah satu lokasi pengembangan cadangan air untuk mengantisipasi musim kemarau dan karhutla.
Menurutnya, ketersediaan sumber air di sekitar kawasan rawan kebakaran akan sangat membantu petugas dan relawan saat melakukan pemadaman.
Ia juga menyampaikan berdasarkan pengalaman di lapangan, penggalian pada lapisan pasir dapat menemukan air, sementara lapisan tanah liat di bawahnya berpotensi membantu menahan air. Namun, kondisi tersebut perlu dikaji secara teknis agar dapat dimanfaatkan sebagai penampungan yang aman dan efektif.
"Itu berdasarkan pengalaman ku lah, tapi coba aja buktikan," tambahnya.
Tantawi berharap pemerintah daerah dapat berkoordinasi dengan instansi terkait untuk mengkaji potensi bekas galian C menjadi embung yang terintegrasi.
Gagasan tersebut diharapkan dapat menjadi langkah antisipasi jangka panjang dalam menghadapi musim kemarau serta memperkuat ketersediaan sumber air untuk penanganan karhutla di Palangka Raya. (MARINI/y)









