BORNEONEWS, Jakarta - Indonesia mendorong perluasan akses pembiayaan perdagangan atau trade finance bagi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di kawasan Organisasi Kerja Sama Islam (OKI). Upaya ini diarahkan untuk memperkuat daya saing ekspor dan membuka peluang UMKM menembus pasar internasional.

Wakil Menteri Perdagangan Dyah Roro Esti Widya Putri mengatakan, UMKM merupakan tulang punggung perekonomian Indonesia. Pada 2025, sektor ini berkontribusi sekitar 61 persen terhadap produk domestik bruto (PDB), dengan nilai lebih dari 500 miliar dolar AS.

Namun, akses pembiayaan ekspor masih menghadapi sejumlah kendala. Di antaranya keterbatasan pemahaman mengenai persyaratan pembiayaan, agunan, serta riwayat kredit.

"Di tengah ketidakpastian ekonomi global, akses pembiayaan perdagangan yang terjangkau menjadi kunci utama dalam mendorong daya saing ekspor," ujar Roro dalam keterangan di Jakarta, Rabu, 4 November 2026.

Hal itu disampaikan Roro dalam sesi exchange view pada Pertemuan The 42nd COMCEC Ministerial Session di Istanbul, Turkiye, Senin, 2 November 2026.

Dalam forum tersebut, Indonesia menyambut rekomendasi kebijakan COMCEC Trade Working Group yang mencakup perluasan pembiayaan syariah, penilaian kredit berbasis arus kas, digitalisasi dokumen perdagangan, serta skema penjaminan bagi UMKM.

Indonesia juga mendorong kerja sama konkret antarnegara anggota OKI melalui peningkatan kapasitas, fasilitas pembiayaan bersama, jaminan kredit, dan asuransi ekspor, khususnya untuk pelaku UMKM.

Selain pembiayaan, Roro menilai digitalisasi pembayaran lintas negara perlu diperkuat, termasuk melalui pemanfaatan transaksi mata uang lokal atau Local Currency Transactions (LCT). Langkah ini diharapkan dapat mendukung aktivitas ekspor UMKM sekaligus memperlancar perdagangan antarnegara.

Indonesia juga mendorong pengembangan sistem pembayaran digital yang aman dan saling terhubung, termasuk penggunaan kode QR untuk transaksi perdagangan elektronik lintas negara.

Menurut Roro, pengalaman Indonesia mengembangkan interkoneksi pembayaran QRIS dengan Malaysia, Singapura, Jepang, dan sejumlah negara lain menunjukkan potensi sistem pembayaran berbasis QR dalam mempermudah transaksi UMKM serta memperluas jangkauan pasar di kawasan OKI.

SUMBER: ANTARA