BORNEONEWS, Jakarta - Lima geopark Indonesia berhasil mempertahankan status kartu hijau atau Green Card UNESCO dalam proses revalidasi UNESCO Global Geoparks (UGGp) 2026 yang berlangsung di Paris, Prancis, pada 2-4 November 2026.
Kelima geopark tersebut yakni Belitong, Merangin Jambi, Ijen, Raja Ampat, dan Maros-Pangkep. Selain itu, Bojonegoro dinyatakan lolos sebagai UNESCO Global Geopark baru.
Sementara itu, Ranah Minang Silokek mendapat kesempatan dua tahun untuk memenuhi rekomendasi UNESCO sebelum kembali diusulkan sebagai geopark dunia.
Menteri Pariwisata Widiyanti Wardhana mengatakan pencapaian tersebut menunjukkan upaya Indonesia dalam memperkuat pengelolaan geopark, melestarikan warisan geologi, serta mengembangkan pariwisata berkelanjutan.
Menurutnya, pengakuan UNESCO harus diikuti dengan pengelolaan kawasan yang berkelanjutan dan keterlibatan masyarakat lokal agar memberikan manfaat ekonomi bagi daerah.
“Status geopark dunia harus dijaga melalui tata kelola yang kuat, konservasi yang nyata, dan pelibatan masyarakat lokal. Kita ingin keberadaan geopark tidak hanya menjadi kebanggaan Indonesia di tingkat dunia, tetapi juga mampu memberikan manfaat ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat di sekitarnya,” kata Widiyanti dalam keterangan resmi di Jakarta, Jumat, 6 November 2026.
Hasil tersebut diumumkan dalam Sidang ke-11 Dewan UNESCO Global Geoparks. Status kartu hijau bagi lima geopark Indonesia ditentukan melalui pemungutan suara anggota Dewan Geopark Dunia.
Salah satu capaian penting diraih Belitong UGGp yang berhasil kembali mendapatkan kartu hijau setelah sebelumnya memperoleh kartu kuning pada revalidasi 2024.
Selama dua tahun masa perbaikan, pengelola bersama pemerintah daerah menindaklanjuti rekomendasi UNESCO, terutama terkait komersialisasi Batu Satam dan standar konservasi penyu. Pemerintah Kabupaten Belitung dan Belitung Timur menerbitkan edaran larangan komersialisasi Batu Satam, sedangkan konservasi penyu dipusatkan di Pulau Cina.
Ijen UGGp yang berada di Kabupaten Banyuwangi dan Bondowoso juga berhasil mempertahankan pengakuan tersebut dalam revalidasi pertamanya sejak ditetapkan pada 24 Mei 2023. Kawasan ini memiliki 21 geosite, termasuk kawah dengan danau asam terbesar di dunia serta fenomena api biru atau blue fire.
Keberhasilan serupa diraih Merangin Jambi UGGp. Kawasan ini memiliki bentang alam batuan kapur berumur kuno dan Kaldera Masurai yang diperkirakan berusia sekitar 33.000 tahun. Salah satu catatan evaluasi sebelumnya berkaitan dengan aktivitas penambangan emas ilegal di sekitar sungai yang menjadi lokasi fosil Muara Karing.
Pengelola bersama pemerintah daerah kemudian mengupayakan penanganan aktivitas tambang tersebut dengan mempertimbangkan kehidupan masyarakat setempat.
Raja Ampat UGGp juga berhasil menuntaskan enam rekomendasi dari evaluasi sebelumnya. Perbaikan meliputi identifikasi empat geosite baru di Pulau Misool, pembangunan Geological Information Center di Waisai dan pusat informasi di Pulau Yefman, serta peningkatan keterlibatan masyarakat adat dalam pelestarian budaya dan perlindungan geosite.
Adapun Maros-Pangkep UGGp menjalani revalidasi pertama pada 27-31 Juli 2026. Kawasan seluas 5.254,10 kilometer persegi ini memiliki bentang alam karst kelas dunia, lebih dari 720 gua, warisan seni cadas prasejarah, kawasan konservasi laut, serta keanekaragaman hayati yang tinggi.
Widiyanti menegaskan, pengakuan UNESCO bukan sekadar penghargaan internasional, melainkan tanggung jawab untuk menjaga kekayaan alam, geologi, dan budaya Indonesia.
Pemerintah berharap keberadaan geopark dapat terus memperkuat konservasi sekaligus membuka peluang pengembangan ekonomi masyarakat di sekitar kawasan.
SUMBER: ANTARA









