BORNEONEWS, Palangka Raya – SMPIT Tiara Az-Zahra Palangka Raya terus memperkuat implementasi Pendidikan Antikorupsi (PAK) sebagai bagian dari upaya membangun budaya sekolah yang berintegritas. Pendidikan antikorupsi tidak hanya disampaikan melalui materi pembelajaran, tetapi juga diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari melalui keteladanan, pembiasaan, dan integrasi nilai-nilai antikorupsi dalam proses pembelajaran.

Kepala SMPIT Tiara Az-Zahra, Jesiati, menyampaikan bahwa pendidikan antikorupsi merupakan bagian penting dari pembentukan karakter peserta didik. Oleh karena itu, sekolah berupaya menghadirkan lingkungan pendidikan yang membiasakan seluruh warga sekolah untuk menjunjung tinggi kejujuran, kedisiplinan, tanggung jawab, kemandirian, kepedulian, dan integritas.

"Menurut kami, pendidikan antikorupsi tidak cukup hanya diajarkan sebagai pengetahuan atau disampaikan melalui imbauan. Nilai-nilai tersebut harus ditanamkan, dibiasakan, dan dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Kami ingin membangun kesadaran bahwa kejujuran dan tanggung jawab merupakan prinsip yang harus dipegang, baik ketika ada maupun tidak ada orang yang mengawasi," ungkap Kepala Sekolah pada Sabtu, 7 November 2026.

Dalam pelaksanaannya, sekolah mengintegrasikan nilai-nilai antikorupsi melalui berbagai program pembiasaan, di antaranya G7KAIH, PPC, dan GKE. Berbagai kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya membangun karakter peserta didik, khususnya dalam menumbuhkan kedisiplinan, tanggung jawab, kemandirian, kepedulian, dan kebiasaan berperilaku positif.

Penguatan karakter juga dilakukan melalui pembiasaan ibadah dan program Kajian Islam. Kegiatan ini menjadi sarana untuk memperkuat keimanan, membentuk akhlak Islami, serta menanamkan kesadaran bahwa setiap tindakan harus dilandasi nilai kebaikan, kejujuran, dan amanah. Sekolah meyakini bahwa kesadaran moral dan tanggung jawab kepada Allah SWT merupakan fondasi penting dalam membangun pribadi yang berintegritas.

Selain itu, sekolah melaksanakan Training Motivasi Peserta Didik untuk membangun semangat belajar, kepercayaan diri, kemandirian, daya juang, dan tanggung jawab dalam mengembangkan potensi diri. Melalui kegiatan tersebut, peserta didik didorong untuk berani berusaha, menghargai proses, serta meraih prestasi dengan kemampuan dan usaha sendiri.

Salah satu bentuk implementasi PAK yang memberikan pengalaman langsung kepada peserta didik adalah Kantin Kejujuran. Melalui fasilitas ini, peserta didik diberikan kepercayaan untuk mengambil jajanan, melakukan pembayaran, dan menghitung transaksi secara mandiri tanpa pengawasan langsung. Berdasarkan hasil pemantauan transaksi, hingga saat ini belum ditemukan selisih kekurangan uang dari hasil penjualan.

"Alhamdulillah, Kantin Kejujuran memberikan gambaran positif tentang tumbuhnya kesadaran anak-anak untuk bersikap jujur dan bertanggung jawab. Sampai saat ini, berdasarkan pemantauan transaksi, belum ditemukan selisih kekurangan uang. Bagi kami, ini bukan sekadar tentang transaksi jual beli, tetapi tentang bagaimana anak-anak belajar menjaga amanah dan membuktikan kejujuran melalui tindakan nyata. Kami ingin mereka memahami bahwa jujur itu bukan hanya ketika diawasi, tetapi juga ketika diberikan kepercayaan," jelas Jesi lagi.

Implementasi pendidikan antikorupsi juga diperkuat melalui keteladanan guru dan tenaga kependidikan. Berdasarkan paparan pihak yayasan, kedisiplinan guru SMP menunjukkan hasil yang optimal. Hal ini menjadi indikator positif dalam membangun budaya kerja yang profesional, bertanggung jawab, dan berkomitmen terhadap tugas. Sekolah menyadari bahwa pembentukan karakter peserta didik harus dimulai dari contoh nyata yang ditunjukkan oleh orang-orang dewasa di lingkungan pendidikan.

Dalam proses pembelajaran, nilai-nilai antikorupsi diintegrasikan melalui kegiatan yang mendorong peserta didik untuk bersikap jujur, disiplin, mandiri, bertanggung jawab, menghargai pendapat, serta tidak mengambil hak orang lain. Hasil Rapor Pendidikan Tahun 2026 juga menunjukkan bahwa aspek pembelajaran menjadi capaian terbaik sekolah. Capaian ini menjadi indikator pendukung positif terhadap kualitas proses pembelajaran yang terus dikembangkan, termasuk dalam penguatan pendidikan karakter.

Komitmen peserta didik juga terlihat selama pelaksanaan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ), ketika tingkat kehadiran mencapai 100 persen. Capaian tersebut menjadi gambaran positif mengenai kedisiplinan, komitmen, dan tanggung jawab peserta didik dalam mengikuti pembelajaran meskipun dilaksanakan dari rumah.

Berdasarkan hasil evaluasi terhadap berbagai program dan indikator tersebut, implementasi Pendidikan Antikorupsi di SMPIT Tiara Az-Zahra dinilai telah berjalan dengan optimal. Nilai-nilai antikorupsi tidak hanya hadir dalam kegiatan formal, tetapi mulai dibangun melalui budaya sekolah, keteladanan warga sekolah, pembiasaan karakter, praktik Kantin Kejujuran, serta proses pembelajaran.

Ke depan, sekolah berkomitmen untuk terus mempertahankan, mengevaluasi, dan mengembangkan praktik baik tersebut agar pendidikan antikorupsi tidak berhenti sebagai program atau kegiatan seremonial, tetapi benar-benar menjadi karakter yang melekat pada seluruh warga sekolah.

"Kami ingin melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga kuat dalam iman, akhlak, dan integritas. Anak-anak yang tetap jujur meskipun tidak diawasi, tetap disiplin meskipun tidak diperintah, dan tetap bertanggung jawab meskipun tidak diminta. Karena bagi kami, keberhasilan pendidikan bukan hanya tentang apa yang diketahui peserta didik, tetapi juga tentang nilai-nilai yang mereka yakini dan praktikkan dalam kehidupan nyata," tuturnya.

Melalui berbagai upaya tersebut, SMPIT Tiara Az-Zahra terus berkomitmen mewujudkan lingkungan pendidikan yang berlandaskan nilai-nilai Islami, sekaligus membentuk generasi yang beriman, berilmu, berkarakter, berprestasi, dan berintegritas. Sebab, membangun budaya antikorupsi sejatinya dimulai dari hal-hal sederhana, dari diri sendiri, dari lingkungan sekolah, dan dari kebiasaan baik yang dilakukan secara konsisten. (TESTI PRISCILLA/Y)