BORNEONEWS, Palangka Raya – Harga ikan nila di sejumlah pedagang mulai mengalami kenaikan signifikan. Di kawasan Jalan Tingang, harga ikan nila kini mencapai Rp68 ribu per kilogram, jauh di atas harga normal yang biasanya berkisar Rp45 ribu hingga Rp48 ribu per kilogram.

Kenaikan harga tersebut mulai berdampak terhadap pola belanja masyarakat. Meski masih diminati, jumlah pembelian ikan nila mengalami penurunan karena sebagian konsumen memilih ikan jenis lain atau mengurangi jumlah pembelian.

Salah seorang pedagang di kawasan Jalan Tingang, Monang, mengatakan, meski harganya terbilang mahal, masih ada masyarakat yang tetap membeli ikan nila.

"Masih ada yang beli, cuma memang jumlahnya jadi berkurang. Ada yang setelah dengar harganya jadi beralih membeli ikan lain, ada juga yang dari 1 Kg jadi cuma beli setengah kilo saja, asal ada ikan Nilanya begitu," kata Monang pada Rabu, 4 November 2026.

Menurutnya, kenaikan harga membuat konsumen harus menyesuaikan pengeluaran. Masyarakat yang sebelumnya biasa membeli satu kilogram kini sebagian memilih membeli setengah kilogram agar tetap bisa menikmati ikan nila.

Kondisi tersebut sejalan dengan catatan Badan Pusat Statistik atau BPS Kalimantan Tengah. Kepala BPS Kalteng, Toto Haryanto Silitonga, sebelumnya mengungkapkan bahwa ikan nila menjadi salah satu komoditas dengan andil cukup besar terhadap inflasi tahunan di daerah ini.

Pada Oktober 2026, ikan nila memberikan andil inflasi tahunan sebesar 0,43 persen. Angka tersebut menempatkannya sebagai komoditas dengan andil inflasi terbesar kedua setelah beras yang mencapai 0,83 persen.

Toto menjelaskan, kenaikan harga ikan nila diduga berkaitan dengan terganggunya produksi akibat kondisi cuaca ekstrem, terutama musim kemarau dan kabut asap yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir.

"Nila ini kan banyak dibudidayakan di sungai, sehingga gagal panennya tinggi di musim kemarau dan kabut asap ini. Ada kemungkinan stok nila itu tidak banyak namun permintaan tinggi sehingga harganya naik," terang Toto.

Ia menambahkan, kondisi cuaca dalam beberapa bulan terakhir turut memengaruhi ketersediaan pasokan. Stok ikan nila yang belum sepenuhnya terpenuhi di tengah permintaan masyarakat yang tetap tinggi membuat komoditas tersebut memberikan tekanan cukup besar terhadap inflasi Kalteng.

Secara tahunan, inflasi Kalimantan Tengah pada Oktober 2026 tercatat mencapai 5,19 persen. Besarnya andil beras dan ikan nila menjadi perhatian karena kedua komoditas tersebut merupakan bagian dari kebutuhan pangan masyarakat sehari-hari.(TESTI PRISCILLA)