BORNEONEWS, Palangka Raya – Tekanan harga pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau di Kalimantan Tengah (Kalteng) semakin meningkat. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat kelompok tersebut mengalami inflasi tahunan (year-on-year/y-on-y) sebesar 8,33 persen pada Oktober 2026.
Kepala BPS Provinsi Kalteng, Toto Haryanto Silitonga, mengatakan seluruh subkelompok dalam kelompok makanan, minuman, dan tembakau mengalami inflasi secara tahunan.
"Kenaikan tertinggi terjadi pada subkelompok makanan yang mencapai 9,46 persen," kata Toto dalam penyampaian berita resmi statistik pada Senin, 2 November 2026.
Sementara itu, subkelompok minuman yang tidak beralkohol mengalami inflasi terendah sebesar 3,22 persen. Secara keseluruhan, kelompok makanan, minuman, dan tembakau memberikan andil inflasi sebesar 3,25 persen terhadap inflasi tahunan Kalteng.
Berdasarkan data BPS, indeks harga kelompok tersebut meningkat dari 112,05 pada Oktober 2025 menjadi 121,38 pada Oktober 2026. Kenaikan ini memperlihatkan tekanan harga kebutuhan pangan masih menjadi salah satu persoalan utama dalam perkembangan inflasi di daerah.
Beras menjadi komoditas dengan andil inflasi tahunan terbesar, yakni 0,83 persen. Disusul ikan nila sebesar 0,43 persen, cabai rawit 0,28 persen, ikan patin 0,16 persen, minyak goreng 0,14 persen, serta terong dan kacang panjang masing-masing 0,12 persen.
"Nila ini kan banyak dibudayakan di sungai, sehingga gagal panennya tinggi di musim kemarau dan kabut asap ini. Ada kemungkinan stok nila itu tidak banyak namun permintaan tinggi sehingga harganya naik. Kalau kita perhatikan secara cuaca beberapa bulan belakangan ini maka stok mereka belum terpenuhi, sehingga sangat besar andilnya terhadap inflasi," terang Toto lagi.
Selain itu, sigaret kretek mesin dan ketimun masing-masing memberikan andil 0,10 persen. Kemudian ikan kapar 0,06 persen, serta air kemasan, tomat, semangka, kangkung, kue basah dan sigaret kretek tangan masing-masing 0,05 persen.
Meski demikian, sejumlah komoditas masih memberikan andil deflasi tahunan. Daging ayam ras menjadi penyumbang deflasi terbesar sebesar 0,09 persen, disusul telur ayam ras 0,06 persen dan bawang merah 0,04 persen. Sementara udang basah dan bawang putih masing-masing 0,02 persen serta kelapa 0,01 persen.
Secara bulanan (month-to-month/m-to-m), kelompok makanan, minuman, dan tembakau pada Oktober 2026 memberikan andil inflasi sebesar 0,62 persen. Berbeda dengan kondisi tahunan, pada periode bulanan daging ayam ras justru menjadi komoditas dengan andil inflasi terbesar, yakni 0,15 persen.
Selanjutnya ikan nila memberikan andil 0,08 persen, ikan gabus 0,07 persen, cabai rawit 0,04 persen, kacang panjang dan tomat masing-masing 0,03 persen, serta kangkung 0,02 persen. Sementara sejumlah komoditas lain, termasuk beras, ikan patin, bayam, sawi hijau, terong, cabai merah dan telur ayam ras, masing-masing memberikan andil 0,01 persen.
Adapun komoditas yang menahan inflasi bulanan adalah minyak goreng dengan andil deflasi 0,03 persen. Kemudian bawang merah, bawang putih, dan ikan peda masing-masing sebesar 0,01 persen.
"Perkembangan tersebut menunjukkan komoditas pangan masih menjadi faktor penting yang memengaruhi pergerakan inflasi Kalteng menjelang akhir 2026," tuturnya. (TESTI PRISCILLA/y)









