BORNEONEWS, Tamiang Layang – Sekolah Tinggi Teologi (STT) Permata Bangsa Barito meluluskan 23 sarjana dan magister dalam Wisuda IX yang berlangsung di Aula Hotel Ade Tamiang Layang, Kabupaten Barito Timur, Rabu, 4 November 2026.
Ketua STT Permata Bangsa Barito, Samuel Simajuntak, mengingatkan para lulusan agar membuktikan kelayakan gelar akademik melalui integritas, pengabdian dan kontribusi nyata kepada masyarakat.
Samuel menegaskan, wisuda bukan sekadar seremoni untuk merayakan keberhasilan akademik. Momentum tersebut justru menjadi awal bagi para lulusan untuk menerapkan ilmu dan nilai-nilai yang mereka peroleh selama menempuh pendidikan.
"Hari ini adalah hari yang luar biasa, hari yang hebat dan hari yang dinanti-nantikan oleh para wisudawan. Namun, hari ini juga menjadi awal untuk membuktikan apa yang telah kalian raih dan bangun selama belajar di STT Permata Bangsa Barito," ujarnya.
Samuel mengajak para lulusan memaknai tema wisuda, yakni Generasi Teologi yang Berintegritas, sebagai landasan dalam menjalani kehidupan dan pengabdian setelah menyelesaikan pendidikan.
Menurut Samuel, gelar akademik tidak cukup menjadi ukuran keberhasilan seorang lulusan. Generasi teologi harus mampu memperlihatkan nilai-nilai iman dan kebenaran melalui sikap serta perbuatan sehari-hari.
"Generasi teologi bukan sekadar label dan bukan sekadar gelar. Ini berbicara tentang apa yang ada di dalam diri kita, yaitu Tuhan yang kita percaya dan yang menguasai hidup kita," katanya.
Samuel berharap para lulusan tidak hanya bangga menyandang gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd.), Sarjana Teologi (S.Th.) maupun Magister Teologi (M.Th.), tetapi juga mampu mengamalkan nilai-nilai Kristiani melalui kehidupan, pekerjaan dan pelayanan kepada masyarakat.
Ia juga mendorong para lulusan mengambil peran aktif dalam pembangunan daerah, khususnya Kabupaten Barito Timur, serta memberikan kontribusi lebih luas bagi bangsa.
"Kami rindu mendengar dan melihat nama-nama lulusan STT Permata Bangsa Barito berperan aktif dalam meningkatkan kemajuan daerah kita, bahkan cita-cita kami sampai kepada bangsa-bangsa," pesannya.
Dalam kesempatan tersebut, Samuel secara khusus menekankan pentingnya integritas sebagai nilai yang harus diwujudkan melalui perilaku sehari-hari. Menurutnya, integritas tidak cukup hanya diucapkan atau dijadikan kebanggaan pribadi, tetapi harus terlihat dalam kehidupan nyata.
"Integritas bukan sekadar kebanggaan yang bisa kita ucapkan bahwa kita adalah pribadi yang berintegritas. Integritas itu harus menjadi sesuatu yang bisa dilihat oleh orang lain dalam diri kita, melalui kehidupan yang kita jalani," tegasnya.
Ketua STT Permata Bangsa Barito mengingatkan bahwa gelar akademik membawa tanggung jawab besar. Masyarakat akan menilai kelayakan seseorang bukan hanya dari pendidikan yang ditempuh, tetapi juga dari perbuatan, kejujuran dan kontribusinya.
"Bangga menerima gelar, tetapi tanggung jawab menjadi sesuatu yang lebih penting. Kalian harus bisa menunjukkan bahwa kalian sungguh layak menerima gelar yang kalian dapatkan hari ini," tegasnya.
Samuel menambahkan, tanggung jawab lembaga pendidikan tidak berhenti ketika mahasiswa menyelesaikan studi. Ia berharap ilmu pengetahuan dan nilai-nilai yang telah diperoleh para lulusan terus diterapkan dalam kehidupan serta menjadi bekal untuk melayani masyarakat.
Menutup sambutannya, Samuel berpesan agar para lulusan terus maju sebagai generasi teologi yang mampu mencerminkan Kristus melalui kehidupan yang berintegritas.
"Pesan dari kami para dosen, maju terus, jadilah generasi teologis yang sungguh-sungguh memperlihatkan Kristus melalui hidup kita dan jangan lupa menjadi pribadi yang berintegritas," pungkasnya.
Sebanyak 23 lulusan mengikuti Wisuda IX STT Permata Bangsa Barito. Mereka terdiri atas 17 sarjana pendidikan, satu sarjana teologi dan lima magister teologi.
Prosesi wisuda dipimpin Samuel Simajuntak bersama jajaran dosen. Acara tersebut turut dihadiri Ketua Yayasan Permata Barito, Staf Ahli Bupati Barito Timur, Kasi Bimas Kristen Kantor Kementerian Agama Barito Timur, perwakilan Dinas Pendidikan Barito Timur, sejumlah pimpinan gereja serta keluarga wisudawan. (AGUSTINUS BOLE MALO/R)









