BORNEONEWS, Sampit - Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) mendapat bantuan tujuh unit irigasi pompa (irpom) dari Kementerian Pertanian untuk menunjang kebutuhan air lahan pertanian. Namun, seluruh bantuan yang telah terpasang itu belum bisa dimanfaatkan secara maksimal untuk mengairi persawahan karena sumber air masih terdampak kekeringan dan bercampur air payau.

"Alhamdulillah, tujuh unit irigasi pompa sudah masuk dan selesai dipasang. Namun, untuk penggunaannya di sektor pertanian masih terkendala kondisi musim yang belum mendukung karena air yang tersedia masih payau," kata Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Kotim Yephi Hartady Periyanto, Kamis, 5 November 2026.

Yephi menjelaskan, bantuan tersebut disalurkan kepada lima kelompok tani (poktan) di sejumlah wilayah pertanian. Dari tujuh unit yang diterima, empat di antaranya ditempatkan di Desa Lampuyang, Kecamatan Teluk Sampit, yang selama ini dikenal sebagai salah satu sentra produksi padi di Kotim.

Sementara tiga unit lainnya dialokasikan untuk petani di Kecamatan Pulau Hanaut. Kedua kawasan tersebut memiliki peran dalam mendukung produksi pangan daerah, sehingga keberadaan sarana pengairan diharapkan dapat membantu petani menghadapi keterbatasan air.

Meski seluruh unit sudah terpasang, pemanfaatannya untuk mengairi sawah belum dapat dilakukan secara optimal. Kondisi sumber air yang masih payau dikhawatirkan berdampak buruk terhadap pertumbuhan tanaman dan menekan hasil panen.

DPKP Kotim pun mengingatkan petani agar tidak terburu-buru memulai penanaman apabila kualitas air belum memenuhi kebutuhan tanaman padi. Sebab, penggunaan air payau berisiko membuat produksi tidak maksimal dan merugikan petani.

"Kalau kita memaksakan memakai air payau, produktivitasnya bisa turun. Kalaupun nanti bisa dipanen, hasilnya berkurang sehingga petani juga berpotensi mengalami kerugian," ujarnya.

Untuk sementara, pompa yang sudah terpasang tersebut diinformasikan turut dimanfaatkan dalam membantu penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sekitar lokasi penerima bantuan. Sementara untuk kepentingan pertanian, pemanfaatannya diharapkan bisa lebih maksimal setelah kondisi air kembali mendukung.

Yephi berharap, saat musim hujan tiba, irigasi pompa dapat membantu petani mempercepat persiapan lahan dan memulai penanaman. Dukungan sarana pengairan tersebut diharapkan membuat proses tanam lebih efektif dan tidak terlalu lama tertunda.

"Harapannya, irigasi pompa ini nanti bisa membantu mempercepat proses pembukaan dan persiapan lahan, sehingga ketika masuk musim tanam, kegiatan penanaman bisa lebih masif dan waktunya lebih cepat dibandingkan sebelumnya," tambahnya.

Selain irigasi pompa, DPKP Kotim juga telah mengajukan permohonan bantuan irigasi perpipaan (irpip) kepada pemerintah pusat. Namun, hingga kini usulan tambahan sarana pengairan tersebut belum mendapatkan realisasi.

Kendala kekeringan turut berdampak pada jadwal musim tanam ketiga atau MT III tahun ini. Jika pada kondisi normal petani mulai menanam sekitar September, kemarau panjang membuat jadwal tersebut mundur dan diperkirakan baru bisa dimulai pada November.

"Mudah-mudahan akhir November musim tanam sudah mulai berjalan. Namun, ini masih harapan berdasarkan kondisi di lapangan dan kebiasaan petani, bukan berdasarkan data atau prediksi resmi BMKG," tuturnya.

Di tengah penurunan produktivitas pertanian, DPKP Kotim juga menyiapkan langkah untuk menjaga ketersediaan pangan masyarakat. Salah satunya dengan mengandalkan cadangan pangan pemerintah daerah sebagai penyangga apabila produksi beras dari panen petani mengalami penurunan.

Yephi menyebut, hasil pertanian pada musim yang sama tahun ini lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya akibat kemarau panjang. Meski demikian, persediaan beras di Kotim saat ini masih dinilai cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

Pihaknya juga telah meminta persetujuan bupati agar cadangan pangan pemerintah daerah dapat disalurkan sebagai langkah antisipasi menghadapi dampak penurunan produksi.

"Walaupun produktivitas kita tahun ini menurun dibandingkan tahun lalu pada musim yang sama, dari sisi ketersediaan bahan pangan, khususnya beras, cadangan pangan kita sebenarnya masih mencukupi," tandasnya. (DEWI PATMALASARI/y)