BORNEONEWS, Sampit - Air PDAM yang terasa asin di sejumlah wilayah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) tidak boleh dianggap sebagai perubahan rasa biasa. Kondisi tersebut menandakan adanya perubahan kualitas air yang perlu diwaspadai karena berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan apabila tetap digunakan untuk minum dan memasak tanpa pemeriksaan terlebih dahulu.
"Air PDAM yang asin di beberapa wilayah berpotensi meningkatkan risiko diare, terutama jika kualitas mikrobiologisnya juga menurun. Namun, besarnya peningkatan kasus tidak dapat ditentukan hanya dari rasa asin dan perlu didukung hasil pemeriksaan kualitas air serta data surveilans diare," kata Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan (Dinkes) Kotim Nugroho Kuncoro Yudho, Kamis, 5 November 2026.
Nugroho menjelaskan, perubahan salinitas atau kadar garam pada air perlu menjadi perhatian masyarakat. Terlebih, apabila kondisi tersebut disertai penurunan kualitas mikrobiologis, risiko penyakit yang ditularkan melalui air dapat meningkat, salah satunya diare.
Berdasarkan pemantauan mingguan dari puskesmas, Dinkes memang menemukan kenaikan kasus diare di kawasan perkotaan. Namun, pihaknya belum dapat menyimpulkan bahwa peningkatan tersebut disebabkan langsung oleh air PDAM yang semakin asin.
Sebab, dalam tiga bulan terakhir, kenaikan kasus diare juga ditemukan di sejumlah wilayah bagian tengah dan utara Kotim. Untuk memastikan keterkaitannya dengan kualitas air, diperlukan hasil pemeriksaan sampel air dan analisis data kesehatan masyarakat.
Karena itu, warga diminta tidak langsung mengonsumsi air PDAM yang sudah berubah rasa sebelum dinyatakan aman. Air tersebut sebaiknya tidak digunakan untuk kebutuhan minum maupun memasak sampai kualitasnya dipastikan memenuhi standar air minum.
Nugroho mengingatkan, merebus air bukan solusi untuk menghilangkan kadar garam. Proses pemanasan memang dapat membantu membunuh mikroorganisme tertentu, tetapi tidak menghilangkan kandungan garam yang menyebabkan air terasa asin.
"Air yang terasa asin menunjukkan adanya perubahan kualitas air dan merebus air tidak menghilangkan kandungan garam tersebut. Sebaiknya tidak langsung dikonsumsi sebelum dipastikan memenuhi standar kualitas air minum," ujarnya.
Selain diare, penggunaan air yang kualitasnya tidak memenuhi persyaratan juga dapat memicu gangguan kesehatan lain, termasuk masalah pada kulit. Sementara itu, konsumsi air dengan kadar garam sangat tinggi dalam jangka panjang berpotensi meningkatkan risiko gangguan kesehatan, seperti hipertensi dan masalah pada pembuluh darah.
Untuk mengurangi risiko penyakit, masyarakat diimbau tetap menjaga kebersihan diri dan lingkungan meskipun sedang menghadapi keterbatasan air bersih. Kebiasaan mencuci tangan menggunakan sabun, menjaga kebersihan makanan serta peralatan makan, dan menyimpan persediaan air dalam wadah tertutup perlu terus dilakukan.
"Jika memungkinkan, gunakan sumber air alternatif yang telah dipastikan aman, seperti air kemasan atau air galon yang telah mendapatkan pengawasan dan pemeriksaan kualitas air secara rutin," imbuhnya.
Ia juga meminta masyarakat lebih selektif dalam memilih sumber air untuk kebutuhan sehari-hari. Air yang kualitasnya belum diketahui sebaiknya tidak digunakan untuk konsumsi agar risiko penyakit berbasis air dapat ditekan selama kondisi air bersih di Kotim belum kembali normal. (DEWI PATMALASARI/y)









