BORNEONEWS, Sampit – RSUD dr Murjani Sampit memberikan pelayanan kesehatan kepada 90.245 pasien hingga September 2026. Dari berbagai penyakit yang ditangani, hipertensi primer tercatat sebagai kasus paling banyak, baik pada pelayanan rawat jalan maupun rawat inap.
"Dari total tersebut sebanyak 76.413 merupakan pasien rawat jalan, sedangkan 13.832 pasien menjalani perawatan inap," kata Wakil Direktur Anggaran dan Keuangan RSUD dr Murjani Sampit Setia Rahmadi, Kamis, 5 November 2026.
Ia menjelaskan, pasien yang datang mendapatkan penanganan untuk berbagai jenis penyakit. Kasus yang ditangani tidak hanya penyakit kronis yang membutuhkan pengobatan berkelanjutan, tetapi juga gangguan kesehatan akut hingga kondisi kritis yang memerlukan perawatan intensif.
Pada pelayanan rawat jalan, hipertensi primer menempati urutan pertama dengan 7.846 kasus. Berikutnya dispepsia atau gangguan pencernaan sebanyak 3.062 kasus dan nekrosis pulpa gigi sebanyak 2.629 kasus.
Penyakit lain yang banyak ditangani yakni diabetes melitus dengan komplikasi peredaran darah perifer sebanyak 2.302 kasus. Kemudian angina pektoris atau nyeri dada akibat gangguan aliran darah ke jantung sebanyak 2.206 kasus dan nyeri punggung bawah mencapai 2.196 kasus.
Selain itu, terdapat 1.939 kasus diabetes melitus dengan komplikasi saraf serta 1.514 kasus gagal jantung kongestif pada layanan rawat jalan.
Dominasi hipertensi juga terlihat pada pelayanan rawat inap. Penyakit tersebut menjadi kasus terbanyak dengan 878 pasien, disusul gastroenteritis dan kolitis sebanyak 588 pasien serta dispepsia sebanyak 462 pasien.
Untuk kasus lainnya, rumah sakit merawat 442 pasien dengan hiponatremia atau gangguan keseimbangan natrium dalam darah. Diabetes melitus dengan komplikasi peredaran darah perifer tercatat sebanyak 419 pasien, sedangkan gangguan metabolisme protein plasma mencapai 413 pasien.
RSUD dr Murjani juga menangani 384 pasien stroke atau infark serebral, 375 pasien diabetes melitus tanpa komplikasi, serta 364 pasien hipokalemia atau kekurangan kadar kalium dalam darah. Selain itu, terdapat 348 pasien sepsis bakteri pada bayi baru lahir.
"Data ini menunjukkan bahwa rumah sakit selain menghadapi tingginya volume kunjungan, tetapi juga harus menangani penyakit kronis dan berbagai kondisi kegawatdaruratan," pungkasnya. (DEWI PATMALASARI/y)









