KOTAWARINGIN TIMUR – BORNEONEWS, Sampit – Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 1 Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) memperkuat pencegahan perundungan (bullying) dan pelecehan di lingkungan sekolah melalui pembinaan karakter. Perlindungan siswa menjadi prioritas karena sekolah menerapkan sistem asrama dengan aktivitas selama 24 jam.

"Harapan kami, Sekolah Rakyat bisa memuliakan masyarakat Kotim, terutama memutus rantai kemiskinan. Kami juga ingin murid-murid terhindar dari perundungan, catcalling, ataupun bentuk pelecehan lainnya," ujar Kepala SRT 1 Kotim Nikkon Bhastari, Senin, 2 November 2026.

Nikkon mengatakan, pendidikan di Sekolah Rakyat tidak hanya berfokus pada akademik, tetapi juga pembentukan karakter, kemandirian, dan kebiasaan positif siswa.

Menurutnya, pembinaan karakter perlu dilakukan secara konsisten melalui pendampingan dan pembiasaan sehari-hari. Siswa didorong untuk disiplin, bertanggung jawab, ramah, dan mandiri.

Ia mencontohkan, saat awal masuk sekolah, sejumlah siswa masih perlu dibimbing untuk membiasakan diri menyapa, memberi salam, dan bersikap ramah. Setelah menjalani pembinaan, perubahan perilaku mulai terlihat.

"Pembentukan karakter ini terus kami lakukan. Kami membiasakan anak-anak untuk disiplin waktu, beribadah, menjaga kebersihan, berolahraga, dan menjalankan kegiatan sehari-hari secara teratur," imbuhnya.

Pembinaan juga diterapkan melalui rutinitas di asrama. Siswa dibiasakan bangun sekitar pukul 04.00 hingga 04.30 WIB untuk beribadah, kemudian membersihkan lingkungan, berolahraga, dan bersiap mengikuti pembelajaran.

Nikkon menegaskan, pencegahan perundungan dan pelecehan merupakan tanggung jawab seluruh unsur sekolah. Guru, tenaga kependidikan, wali asuh, dan wali asrama harus turut menjaga keamanan serta kenyamanan siswa.

"Saya tidak ingin ada pegawai, tenaga kependidikan, wali asuh, wali asrama, maupun guru yang melakukan pelecehan, baik secara verbal maupun fisik. Saya juga tidak menginginkan adanya predator seksual di lingkungan sekolah. Semua harus diingatkan agar hal seperti ini tidak terjadi," tegasnya.

Ia mengingatkan seluruh tenaga pendidik dan kependidikan agar menjadi teladan bagi siswa. Perilaku orang dewasa di lingkungan sekolah turut membentuk sikap dan cara anak berinteraksi.

Karena itu, pengawasan harus disertai keteladanan. Seluruh unsur sekolah wajib menjaga perilaku, menghormati batasan pribadi siswa, serta mencegah tindakan yang merendahkan, mengintimidasi, atau menyakiti murid.

Selain menciptakan lingkungan yang aman, SRT 1 Kotim juga memfasilitasi pengembangan minat dan bakat siswa. Kegiatannya meliputi berenang, pencak silat, basket, sepak bola, hingga pembinaan olimpiade.

Nikkon menyebutkan, pada 2026 SRT 1 Kotim telah memiliki gedung dan lahan sendiri setelah melewati masa perintisan dengan fasilitas terbatas. Fasilitas tersebut mendukung kegiatan belajar dan pengembangan potensi siswa.

"Kami berharap melalui pembinaan yang terus dilakukan, SRT 1 Kotim bisa menjadi lingkungan pendidikan yang aman dan nyaman bagi murid. Kami ingin anak-anak tidak hanya berkembang secara akademik, tetapi juga memiliki karakter yang baik, mandiri, disiplin, dan siap menghadapi tantangan ke depan," pungkasnya. (DEWI PATMALASARI/y)