BORNEONEWS, Sampit - Rencana pengerukan alur Sungai Mentaya di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) masih menunggu keputusan Menteri Perhubungan. Hingga saat ini, pemerintah daerah belum menerima perkembangan terbaru terkait kepastian pelaksanaan pengerukan tersebut.
"Sampai sekarang masih belum (belum ada perkembangan), tapi sudah proses menunggu keputusan dari Pak Menteri Perhubungan. Itu kita tunggu," kata Bupati Kotim Halikinnor, Sabtu, 31 Oktober 2026.
Halikinnor menjelaskan, proses pengajuan pengerukan muara Sungai Mentaya telah dilakukan pemerintah daerah. Namun, realisasi kegiatan tersebut masih bergantung pada keputusan pemerintah pusat melalui Kementerian Perhubungan.
Pengerukan alur muara Sungai Mentaya menjadi salah satu kebutuhan penting bagi Kotim. Sebab, jalur tersebut merupakan akses utama kapal yang melayani aktivitas perdagangan dan distribusi berbagai komoditas dari dan menuju daerah ini.
Selama ini, pendangkalan di bagian muara menjadi kendala bagi kapal-kapal berukuran besar. Kedalaman alur yang terbatas membuat kapal tidak dapat melintas dengan leluasa, terutama ketika air sungai sedang surut.
Kapal-kapal besar bahkan harus menunggu air pasang sebelum bisa masuk atau keluar melalui muara Sungai Mentaya. Kondisi tersebut dapat memengaruhi jadwal pelayaran dan aktivitas bongkar muat di Pelabuhan Sampit.
Persoalan ini juga berkaitan dengan kelancaran distribusi hasil sumber daya alam Kotim, termasuk komoditas minyak sawit. Sebagai salah satu jalur transportasi penting, Sungai Mentaya memiliki peran besar dalam menunjang pergerakan barang dan kegiatan ekonomi daerah.
Selain kelancaran pelayaran, pengerukan alur Sungai Mentaya diharapkan dapat mendukung pengembangan Pelabuhan Sampit. Alur yang lebih dalam dan memadai akan membuka peluang bagi kapal berukuran besar untuk beroperasi dengan lebih leluasa.
Meski demikian, pemerintah daerah masih harus menunggu keputusan Menteri Perhubungan sebelum dapat memastikan tahapan selanjutnya. Halikinnor berharap keputusan dari Kementerian Perhubungan segera terbit sehingga penanganan pendangkalan muara Sungai Mentaya dapat direalisasikan. (DEWI PATMALASARI/H)









