BORNEONEWS, Tamiang Layang – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali terjadi di Kabupaten Barito Timur, Kalimantan Tengah. Pada Selasa, 3 November 2026, kebakaran terjadi di Desa Sarapat dan Desa Matarah, Kecamatan Dusun Timur.

Di Desa Sarapat, api menghanguskan sekitar 1,5 hektare lahan gambut. Petugas gabungan berhasil memadamkan api di sekitar 0,9 hektare lahan, tetapi kebakaran belum sepenuhnya terkendali.

Sementara itu, karhutla di Desa Matarah ditangani oleh relawan kebakaran (Redkar) RBN bersama warga setempat. Kedua kejadian tersebut menunjukkan bahwa penanganan karhutla di Barito Timur masih terus berlangsung meski status tanggap darurat telah berakhir.

Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Damkar Barito Timur, Parluhutan Tampubolon, mengatakan pihaknya menerima laporan kebakaran di Desa Sarapat dari masyarakat melalui WhatsApp. Menindaklanjuti laporan tersebut, Tim Reaksi Cepat Penanggulangan Bencana (TRC-PB) BPBD Damkar Barito Timur langsung bergerak menuju lokasi.

“Begitu menerima laporan dari masyarakat, tim segera menuju lokasi untuk melakukan penanganan. Kami berupaya memadamkan api agar tidak semakin meluas ke area sekitarnya,” tuturnya.

Tim berangkat dari Posko Induk Gabungan Tamiang Layang pada pukul 13.15 WIB dan tiba di lokasi sekitar 20 menit kemudian. Operasi pemadaman berlangsung hingga pukul 17.15 WIB dengan melibatkan sembilan personel TRC-PB, anggota ORARI, Perumdam Tirta Janang, Damkar Pos Tamiang Layang serta warga Desa Sarapat.

Parluhutan menjelaskan, petugas mengalami kesulitan menjangkau titik kebakaran karena kondisi akses jalan yang cukup sulit. Selain itu, sumber air dari irigasi persawahan hampir kering sehingga menghambat proses pemadaman.

“Pemadaman belum bisa dilakukan secara menyeluruh karena akses jalan menuju titik kebakaran cukup sulit. Selain itu, sumber air dari irigasi persawahan hampir kering dan lapisan gambut di lokasi cukup tebal,” jelasnya.

Kondisi semak belukar dan pepohonan yang mengering turut mempercepat perambatan api. Untuk mendukung operasi pemadaman, petugas mengerahkan mesin pompa air, selang, nosel, dua tandon berkapasitas masing-masing 1.000 liter serta satu unit mobil pemadam kebakaran.

Meski sebagian area berhasil dipadamkan, petugas masih harus mewaspadai potensi munculnya kembali api di lahan gambut. Api yang menjalar di bawah permukaan tanah dapat sulit terdeteksi sehingga membutuhkan penanganan lebih lanjut untuk memastikan kebakaran benar-benar padam.

Parluhutan mengimbau masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi karhutla dan segera melaporkan apabila menemukan titik api. Menurutnya, penanganan sejak dini sangat penting untuk mencegah kebakaran meluas ke area lain.

“Kami mengimbau masyarakat agar tetap waspada terhadap potensi karhutla dan segera melaporkan apabila melihat titik api. Penanganan sejak dini sangat penting untuk mencegah kebakaran meluas,” pungkasnya.

Sementara itu, Bupati Barito Timur M Yamin memastikan pemerintah daerah tetap melanjutkan penanganan karhutla meski status tanggap darurat yang diperpanjang telah berakhir pada 31 Oktober 2026 dan beralih ke tahap pemulihan pascabencana.

“Penurunan status tidak berarti pemerintah daerah menghentikan upaya penanganan karhutla yang masih berpotensi terjadi di sejumlah wilayah,” ujar Yamin, Selasa, 3 November 2026.

Yamin menjelaskan, pemerintah daerah mempertimbangkan perkembangan kondisi karhutla, sebaran titik panas, kualitas udara serta situasi di masing-masing wilayah sebelum menurunkan status tanggap darurat. Pemerintah daerah juga memperhatikan masukan Forkopimda dan perangkat daerah terkait.

Ia memastikan pemerintah daerah tetap menyiagakan personel untuk merespons kebakaran yang terjadi di lapangan. Penanganan akan melibatkan BPBD dan Damkar, relawan, TNI serta Polri sesuai kondisi dan kebutuhan di lokasi kejadian.

“Apabila terjadi kebakaran, penanganan tetap dilakukan dengan melibatkan BPBD dan Damkar, relawan, TNI serta Polri sesuai kondisi di lapangan,” katanya.

Yamin juga mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan pembakaran lahan dengan alasan apa pun. Ia meminta masyarakat segera melaporkan apabila menemukan titik api atau aktivitas pembakaran lahan yang berpotensi memicu kebakaran.

“Kami mengimbau masyarakat agar tidak melakukan pembakaran lahan dengan alasan apa pun. Mari bersama-sama menjaga lingkungan agar karhutla tidak kembali terjadi,” tegasnya. (AGUSTINUS BOLE MALO)