BORNEONEWS, Palangka Raya – Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Kota Palangka Raya mencatat kekeringan akibat musim kemarau tidak hanya menyebabkan gagal panen, tetapi juga menghambat petani memulai masa tanam.

Kepala DPKP Kota Palangka Raya, Sugiyanto, menjelaskan kondisi tersebut membuat sejumlah lahan pertanian mengalami kerugian karena tanaman tidak mampu bertahan akibat minimnya pasokan air.

Salah satu kejadian tercatat di Kelurahan Pager. Petani setempat sebelumnya melakukan penanaman padi di lahan seluas sekitar 5,5 hektare.

Namun, tanaman padi tersebut mengalami puso atau gagal panen akibat kondisi kekeringan yang melanda kawasan tersebut.

“Begitu petani mau menanam, seperti kemarin ada penanaman padi di Kelurahan Pager seluas 5,5 hektare. Namun, karena kondisi kekeringan, akhirnya puso semuanya,” kata Sugiyanto, Rabu, 4 November 2026.

Ia menjelaskan, kekeringan menjadi tantangan serius bagi sektor pertanian karena berdampak sejak tahap awal budidaya. Petani yang sudah menyiapkan lahan dan melakukan penanaman berisiko kehilangan hasil apabila kebutuhan air tanaman tidak terpenuhi.

"Kondisi ini juga menunjukkan bahwa dampak musim kemarau tidak hanya dirasakan oleh petani yang telah memasuki masa panen, tetapi juga mereka yang baru memulai proses tanam," tambahnya.

Sebelumnya, DPKP Palangka Raya mencatat sekitar 1.402 hektare lahan pertanian terdampak kekeringan. Sementara itu, luas lahan pertanian yang terdampak kebakaran tercatat sekitar 99,5 hektare.

Sugiyanto berharap kondisi tersebut menjadi perhatian dalam upaya menjaga keberlangsungan pertanian di Palangka Raya, terutama melalui pengelolaan air dan penyesuaian kegiatan tanam dengan kondisi cuaca. (MARINI/j)