BORNEONEWS, Palangka Raya – Kekeringan akibat musim kemarau menjadi faktor utama yang mengganggu aktivitas pertanian di Kota Palangka Raya. Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) mencatat sekitar 1.402 hektare lahan pertanian terdampak kekeringan.
Dampak tersebut mulai dari terganggunya proses tanam hingga menyebabkan petani mengalami gagal tanam dan gagal panen. Kondisi ini menjadi perhatian pemerintah daerah dalam menjaga produktivitas pertanian dan ketahanan pangan.
Kepala DPKP Kota Palangka Raya, Sugiyanto, mengatakan kerusakan lahan pertanian selama musim kemarau tidak seluruhnya disebabkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Menurutnya, kekeringan justru menjadi faktor yang lebih dominan memengaruhi lahan pertanian masyarakat dibandingkan kebakaran.
“Dampak dari karhutla itu sebenarnya yang paling berdampak adalah karena kekeringan. Dengan kekeringan ini, salah satunya ada 1.402 hektare yang memang mengalami kekeringan,” kata Sugiyanto, Rabu, 4 November 2026.
Ia menjelaskan, berdasarkan pendataan terakhir, luas lahan pertanian yang terdampak kebakaran tercatat sekitar kurang lebih 99,5 hektare.
“Kalau kebakaran sampai terakhir kemarin hanya 99,5 hektare,” ujarnya.
Angka tersebut menunjukkan luas lahan yang terdampak kekeringan jauh lebih besar dibandingkan lahan yang mengalami kerusakan akibat kebakaran. Kondisi minimnya pasokan air selama musim kemarau menjadi tantangan bagi petani dalam mempertahankan tanaman.
Kekeringan dapat menghambat proses pengolahan lahan dan penanaman, bahkan berpotensi menyebabkan tanaman tidak berkembang optimal hingga gagal panen.
Pihaknya dari DPKP Palangka Raya terus melakukan pendataan terhadap kondisi lahan pertanian terdampak sebagai dasar dalam menentukan langkah penanganan dan dukungan bagi petani.
"Memperkuat upaya mitigasi kekeringan, termasuk pengelolaan sumber air dan penyesuaian pola tanam, agar dampak musim kemarau terhadap sektor pertanian dapat diminimalkan," pungkasnya.(MARINI)









