BORNEONEWS, Palangka Raya - Ancaman kebakaran hutan dan lahan kembali menghantam Kota Palangka Raya dengan tingkat yang kian mengkhawatirkan.

Meski sempat diguyur hujan berintensitas sedang hingga tinggi selama hampir sepekan di area terdampak, kualitas udara di ibu kota Provinsi Kalimantan Tengah ini memburuk secara drastis hingga menyentuh ambang batas kritis pada Kamis.

Berdasarkan data resmi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) per pukul 11.00 WIB Kamis, 5 November 2026, konsentrasi partikulat halus (PM₂.₅) melonjak tajam hingga mencapai 562,6 µg/m³.

Pantauan di lapangan menunjukkan kabut asap pekat menyelimuti wilayah perkotaan secara masif mulai pukul 11.30 WIB

Selain aroma menusuk khas pembakaran vegetasi lahan gambut, kerapatan partikel suspensi di atmosfer membuat sinar matahari tertutup rapat hingga mengubah warna matahari menjadi kuning pekat keoranyean.

Dinamika ini mengejutkan warga yang tengah beraktivitas.

Sejak pagi hari, kondisi udara masih terbilang relatif terkendali walau dihiasi kabut tipis dengan jarak pandang horizontal sekitar satu kilometer.

Perubahan yang terjadi dalam hitungan jam membuat suasana siang hari tampak seperti senja yang telah larut.

Salah seorang warga Palangka Raya, Mahrizal, mengaku terperanjat saat keluar ruangan menjelang waktu istirahat siang.

Ia tidak menyangka kondisi visual kota berubah begitu ekstrem dalam durasi yang sangat singkat.

"Tadi pas jam istirahat, saat keluar kantor kaget, dikira sudah mau Maghrib. Ternyata kabut asapnya turun sangat pekat," ungkap Mahrizal.

Fenomena ini mengindikasikan bahwa hujan yang mengguyur dalam kurun waktu sepekan terakhir belum mampu memadamkan api di lapisan dalam tanah gambut atau ground fire.

Sebaran asap tebal diperkirakan terbawa embusan angin dari titik-titik kebakaran aktif menuju pusat pemukiman penduduk.

Dengan status udara yang telah memasuki kategori Berbahaya, BMKG mengimbau masyarakat untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan

"Penggunaan masker berstandar tinggi seperti N95 atau respirator sangat direkomendasikan guna meminimalisasi risiko paparan partikulat halus yang berpotensi memicu Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) serta gangguan kesehatan berat lainnya," pungkasnya. (PATHUR/R)