BORNEONEWS, Palangka Raya – Bursa Efek Indonesia atau BEI berkomitmen memperkuat pengawasan perdagangan pasar modal melalui penerapan mekanisme real time flagging untuk mendeteksi indikasi pelanggaran secara lebih cepat. Langkah ini menjadi bagian dari upaya meningkatkan transparansi, likuiditas, dan kepercayaan investor terhadap pasar modal Indonesia.
Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, mengatakan penguatan pengawasan menjadi salah satu komitmen BEI dalam mendorong terciptanya perdagangan yang lebih transparan dan berintegritas.
Hal tersebut disampaikannya dalam sambutan pembukaan Capital Market Summit & Expo atau CMSE 2026 di Main Hall Bursa Efek Indonesia, Jakarta yang Borneonews ikuti secara daring pada Kamis, 5 November 2026.
"Dari sisi pengawasan, kami juga punya komitmen yang sangat tinggi untuk meningkatkan efektivitas dari pengawasan di bursa. Oleh karena itu, kami saat ini akan melakukan pengawasan dengan real time flagging bila kami menemukan adanya indikasi pelanggaran dalam perdagangan di Bursa Efek Indonesia," ujar Jeffrey.
Menurutnya, peningkatan transparansi, perbaikan likuiditas, dan pengawasan yang semakin efektif merupakan tiga aspek penting yang harus berjalan beriringan. Kombinasi ketiganya diyakini menjadi fondasi kuat bagi pertumbuhan pasar modal Indonesia ke depan.
Jeffrey juga menyinggung langkah pembenahan dari sisi mekanisme perdagangan, termasuk tidak adanya lagi floor price di pasar. Upaya tersebut menjadi bagian dari rangkaian langkah untuk memperkuat kualitas perdagangan di bursa.
Dia menegaskan, berbagai pembenahan pasar modal membutuhkan dukungan dan keterlibatan seluruh pemangku kepentingan. Karena itu, momentum CMSE 2026 dinilai strategis sebagai ruang untuk bertukar pikiran dan membahas berbagai peluang pengembangan pasar modal Indonesia.
Sementara itu, Deputi Komisioner Perizinan dan Pengawas Pengelolaan Investasi Pasar Modal dan Lembaga Efek Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Republik Indonesia, Eddy Manindo Harahap, menyampaikan bahwa 2026 menjadi tahun yang menguji ketahanan pasar modal Indonesia.
Menurutnya, volatilitas ekonomi global, eskalasi ketegangan geopolitik, serta dinamika penilaian dari penyedia indeks global memberikan tekanan yang tidak ringan terhadap pasar saham domestik.
Namun, di tengah berbagai tantangan tersebut, kepercayaan masyarakat terhadap pasar modal Indonesia dinilai tetap terjaga. Hal itu tercermin dari pertumbuhan jumlah investor yang terus meningkat.
Eddy menyebutkan, hingga 30 Oktober 2026, jumlah investor pasar modal Indonesia telah mencapai angka yang signifikan. Pertumbuhan tersebut juga didominasi generasi muda dan menjadi salah satu capaian tertinggi dalam sejarah pasar modal Indonesia.
"Namun justru di tengah ujian tersebut kita menyaksikan hal yang sangat membanggakan, yaitu kepercayaan masyarakat terhadap pasar modal Indonesia tidak surut," ungkap Eddy.
Dia juga menyoroti pemerataan inklusi pasar modal yang semakin meluas ke berbagai wilayah Indonesia. Sejumlah provinsi di luar Pulau Jawa, seperti Aceh, Sumatera Barat, dan Nusa Tenggara Timur, bahkan mencatatkan pertumbuhan investor tertinggi sepanjang tahun ini.
Kondisi tersebut, menurutnya, semakin menegaskan bahwa pasar modal Indonesia bukan hanya milik masyarakat di kota-kota besar atau Pulau Jawa, melainkan telah menjadi bagian dari kesempatan investasi bagi seluruh masyarakat Indonesia.
Dalam kesempatan tersebut, Eddy sekaligus membuka secara resmi Capital Market Summit & Expo (CMSE) 2026.
Kegiatan yang berlangsung pada 5-7 November 2026 itu mengusung tema "Satu Langkah Investasi, Berjuta Peluang Masa Depan". CMSE diselenggarakan BEI bersama PT Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI) dan PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), dengan dukungan OJK.
Selama tiga hari pelaksanaan, CMSE 2026 menghadirkan seminar, talkshow edukatif, pemberian penghargaan, serta pameran produk dan layanan pasar modal. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan literasi dan inklusi keuangan sekaligus memperluas akses masyarakat terhadap informasi dan layanan investasi pasar modal. (TESTI PRISCILLA/j)









