BORNEONEWS, Pulang Pisau – DP3AP2KB Kabupaten Pulang Pisau terus memperkuat upaya pencegahan dan percepatan penurunan stunting melalui berbagai program pendampingan keluarga, edukasi kesehatan, hingga pemenuhan gizi bagi kelompok sasaran.

Kepala DP3AP2KB Kabupaten Pulang Pisau, dr. Pande Putu Gina, mengatakan upaya tersebut dilakukan dengan menyasar remaja, calon pengantin, pasangan usia subur, ibu hamil, ibu menyusui, hingga keluarga yang memiliki balita.

“Pencegahan stunting harus dilakukan sejak dini dan melibatkan seluruh kelompok sasaran. Mulai dari remaja, calon pengantin, ibu hamil, hingga keluarga yang memiliki balita. Karena itu, pendampingan dan edukasi keluarga menjadi bagian penting dalam upaya menurunkan angka stunting,” kata Pande. Rabu, 4 November 2026.

Berdasarkan data yang dipaparkan, angka stunting di Kabupaten Pulang Pisau menunjukkan perkembangan berdasarkan dua sumber pengukuran, yakni Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) dan Elektronik Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (EPPGBM).

Data SSGI mencatat angka stunting sebesar 31,6 persen, kemudian turun menjadi 24 persen dan kembali tercatat 27,9 persen. Sedangkan berdasarkan EPPGBM, angkanya tercatat 16,58 persen, 18,94 persen, 15,49 persen, dan 15,94 persen.

Untuk mendukung percepatan penurunan stunting, DP3AP2KB juga mencatat capaian sejumlah indikator program. Persentase calon pengantin yang mendapatkan bimbingan perkawinan dengan materi pencegahan stunting mencapai 85,99 persen pada 2025 dan meningkat menjadi 90 persen hingga Juni 2026.

Sementara itu, persentase KB pascapersalinan dalam 42 hari setelah melahirkan meningkat dari 75,46 persen pada 2025 menjadi 100 persen hingga Juni 2026.

Adapun kelompok sasaran yang memperoleh pendampingan Tim Pendamping Keluarga (TPK) juga meningkat dari 3,25 persen pada 2025 menjadi 29 persen hingga Juni 2026.

Dalam pelaksanaannya, terdapat tujuh unsur yang dilibatkan, yakni Tim Pendamping Keluarga (TPK), Bina Keluarga Balita (BKB), Bina Keluarga Remaja (BKR), Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK-R), kader Dapur Sehat Atasi Stunting (DASHAT), tenaga kesehatan dan fasilitas pelayanan kesehatan, serta masyarakat dan pihak swasta.

TPK menjadi salah satu ujung tombak pendampingan keluarga. Di Kabupaten Pulang Pisau terdapat 318 anggota TPK yang terdiri dari bidan desa, TP PKK, dan kader KB.

Mereka bertugas memberikan penyuluhan, memfasilitasi pelayanan rujukan dan bantuan sosial, serta melakukan pengawasan untuk mendeteksi dini faktor risiko stunting. Sasaran pendampingannya meliputi calon pengantin, ibu hamil, ibu pascapersalinan, ibu menyusui, dan anak bawah dua tahun.

Selain itu, program BKB dilaksanakan melalui 54 kelompok kegiatan dengan dukungan 391 kader. Program ini bertujuan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan orang tua dalam mengasuh serta mendukung tumbuh kembang anak.

Bina Keluarga Remaja memiliki 24 kelompok kegiatan dengan 71 kader. Sedangkan PIK-R dilaksanakan melalui 37 kelompok kegiatan dengan 37 kader yang menjadi wadah bagi remaja untuk mendapatkan informasi mengenai kesehatan reproduksi, kehidupan berkeluarga, dan pengembangan diri.

Program lainnya adalah DASHAT yang mengedepankan pemberdayaan masyarakat melalui edukasi pemenuhan gizi seimbang, pola konsumsi sehat, serta pemanfaatan pangan lokal bagi keluarga berisiko stunting.

Upaya pencegahan juga diperkuat melalui Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (GENTING) dengan melibatkan perusahaan dan lembaga sosial. Dukungan diberikan dalam bentuk makanan tambahan, bahan makanan, hingga bantuan jamban bagi keluarga sasaran.

Di sisi lain, DP3AP2KB turut mendorong keterlibatan kader dalam menyukseskan Program Makan Bergizi Gratis (MBG), khususnya bagi kelompok B3 yang terdiri dari ibu hamil, ibu menyusui, dan balita.

Berdasarkan paparan tersebut, penerima MBG kelompok B3 tercatat sebanyak 643 orang. Rinciannya terdiri dari 59 ibu hamil, 142 ibu menyusui, dan 442 balita yang tersebar di wilayah Kecamatan Kahayan Hilir dan Pandih Batu.

Pande berharap keterlibatan seluruh unsur tersebut dapat memperkuat upaya pencegahan stunting di Kabupaten Pulang Pisau.

“Melalui pendampingan keluarga, edukasi, pemenuhan gizi, dan kolaborasi lintas sektor, upaya pencegahan stunting diharapkan dapat berjalan lebih optimal dan berkelanjutan,” tutupnya.( RETHA/H)