BORNEONEWS, Palangka Raya – Minyak kelapa sawit menjadi salah satu penopang utama kinerja ekspor Kalimantan Tengah sepanjang Januari hingga September 2026. Badan Pusat Statistik atau BPS Kalteng mencatat nilai ekspor kelompok lemak dan minyak hewani/nabati meningkat US$190,49 juta atau tumbuh 36,53 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
"Kenaikan tersebut menjadi yang tertinggi di antara kelompok komoditas ekspor Kalimantan Tengah. Sebaliknya, kelompok bahan bakar mineral yang mencakup batu bara justru mengalami penurunan nilai ekspor sebesar US$72,22 juta atau 4,08 persen," kata Kepala BPS Kalimantan Tengah Toto Haryanto Silitonga pada Jumat, 6 November 2026.
Toto menyampaikan, batu bara, minyak kelapa sawit, dan kayu olahan masih menjadi komoditas utama ekspor daerah.
"Secara keseluruhan, nilai ekspor Kalimantan Tengah pada Januari–September 2026 meningkat US$27,20 juta atau 1,06 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya," terangnya.
Selain kelompok lemak dan minyak hewani/nabati, peningkatan juga terjadi pada kelompok residu dan sisa industri makanan sebesar US$3,40 juta atau 20,67 persen.
"Kinerja ekspor sawit juga terlihat dari perkembangan pada September 2026. Dibandingkan September 2025, nilai ekspor kelompok lemak dan minyak hewani/nabati meningkat US$71,19 juta atau melonjak 186,75 persen," katanya lagi.
Bahkan, jika dibandingkan dengan Agustus 2026, nilai ekspor kelompok tersebut masih tumbuh US$25,43 juta atau 30,32 persen. Peningkatan ini terjadi ketika nilai ekspor Kalimantan Tengah secara keseluruhan justru turun US$2,98 juta atau 1,38 persen secara bulanan.
Kondisi berbeda terjadi pada batu bara. Pada September 2026, nilai ekspor kelompok bahan bakar mineral turun US$109,78 juta atau 56,30 persen dibandingkan September 2025. Secara bulanan, kelompok ini juga mengalami penurunan US$24,76 juta atau 22,52 persen.
Sementara itu, dari sisi produksi, BPS Kalteng mencatat produksi kelapa sawit pada triwulan III 2026 tumbuh 1,45 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Produksi CPO dan produk turunannya juga meningkat 5,24 persen.(TESTI PRISCILLA/H)









