BORNEONEWS, Jakarta – Perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) mulai mengubah industri produksi drama digital. Namun, studio asal Indonesia, Suneeday Creative, memilih tetap mengandalkan kreativitas manusia dalam menciptakan cerita dan membangun karakter.
Di tengah meningkatnya penggunaan AI dalam produksi drama pendek atau micro drama di China, Suneeday menilai keterlibatan penulis, sutradara, dan aktor masih menjadi unsur penting untuk menghasilkan konten yang mampu menarik perhatian penonton.
Chief Commercial & Marketing Officer Suneeday Creative, Sahlil Ge, mengatakan teknologi AI memang dapat mempercepat proses produksi. Meski demikian, kemampuan membangun karakter dan kedekatan emosional dengan penonton tetap menjadi keunggulan kreativitas manusia.
“China menunjukkan seberapa cepat teknologi bisa memproduksi drama dalam jumlah besar. Tapi untuk saat ini volume bukan tantangan kami, karena kami sudah memproduksi lebih dari 600 episode per bulan. Yang dicari penonton dan brand di Indonesia adalah karakter yang mereka percaya, dan itu lahir dari manusia,” kata Sahlil dalam keterangan tertulis di Jakarta, Jumat, 6 November 2026.
Pernyataan tersebut disampaikan setelah Suneeday Creative mengikuti kegiatan The Micro Drama Frontier yang diselenggarakan YouTube di Hangzhou dan Hengdian, China, pada 20–22 Oktober 2026.
Dalam kegiatan itu, Suneeday menjadi salah satu studio yang mendapat kesempatan melihat perkembangan industri drama pendek di China.
Peserta mengunjungi Hengdian World Studios yang dikenal sebagai salah satu pusat produksi film dan drama, sekaligus mengikuti diskusi bersama pimpinan YouTube kawasan Asia Pasifik, pelaku industri, dan kreator konten.
Pembahasan dalam pertemuan tersebut mencakup perkembangan format drama pendek vertikal, peluang bisnis internasional, serta perubahan metode produksi akibat penggunaan teknologi AI.
Perkembangan industri micro drama di China menunjukkan bagaimana teknologi dapat meningkatkan kecepatan produksi konten secara signifikan.
Mengutip data media pemerintah China yang diberitakan CNN, lebih dari 95 persen micro drama baru di China pada kuartal pertama 2026 diproduksi menggunakan teknologi AI.
Meski teknologi tersebut semakin banyak digunakan, Suneeday menilai industri drama digital Indonesia memiliki karakteristik pasar tersendiri.
Studio yang berdiri sejak 2022 itu memilih mengembangkan konten dengan tetap melibatkan pemeran manusia sebagai bagian dari strategi membangun hubungan dengan penonton.
Dari sisi kapasitas, Suneeday menyebut mampu menghasilkan lebih dari 30 episode drama vertikal setiap hari atau lebih dari 600 episode dalam sebulan.
Konten tersebut didistribusikan melalui 26 kanal digital yang tersebar di TikTok, YouTube, Instagram, dan Snack Video.
Perusahaan juga mengklaim jaringan kanalnya telah memiliki lebih dari 50 juta pengikut dengan jumlah tayangan mencapai lebih dari satu miliar setiap bulan.
Besarnya jangkauan tersebut menunjukkan peluang pasar drama pendek vertikal di Indonesia yang terus berkembang seiring meningkatnya konsumsi konten melalui perangkat seluler.
Pertumbuhan industri ini sekaligus mendorong persaingan antarrumah produksi dalam menghadirkan cerita yang menarik, mudah diakses, dan sesuai dengan kebiasaan penonton digital.
Suneeday memandang perkembangan industri micro drama berbasis AI di China sebagai referensi untuk mengevaluasi strategi produksi, distribusi, serta pengembangan kemitraan bisnis di Indonesia.
Meski terbuka terhadap pemanfaatan teknologi baru, perusahaan tetap menempatkan kreativitas manusia sebagai bagian utama dalam proses pengembangan cerita dan karakter.
Sumber: ANTARA









