BORNEONEWS, Sampit – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kotawaringin Timur (Kotim) menyiapkan alternatif layanan kesehatan bagi siswa Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 1 Kotim setelah kontrak tenaga kesehatan berakhir. Salah satu solusi yang diusulkan adalah menghadirkan dokter kunjung dari puskesmas terdekat.
"Kami akan berkoordinasi lagi dengan Kepala Dinas Kesehatan. Kalau memang di sini memerlukan tenaga kesehatan untuk memeriksa kondisi anak-anak, sementara bisa melalui puskesmas terdekat," kata Wakil Bupati Kotim Irawati, Selasa, 3 November 2026.
Irawati mengatakan, koordinasi dengan Dinas Kesehatan diperlukan untuk menentukan langkah pemenuhan layanan medis bagi siswa. Pemerintah daerah ingin memastikan kebutuhan pemeriksaan kesehatan tetap terlayani meskipun sekolah belum memiliki tenaga medis yang bertugas secara khusus.
Sebagai langkah sementara, tenaga kesehatan dari puskesmas terdekat dapat dijadwalkan melakukan pemeriksaan secara berkala. Skema ini dinilai bisa diterapkan sambil menunggu kepastian penempatan dokter atau perawat di lingkungan sekolah.
"Kalau belum ada surat perintah dari Dinas Kesehatan untuk menempatkan perawat atau dokter di sini, paling tidak bisa dilakukan dokter kunjung dua atau tiga kali dalam seminggu. Itu solusi cepat yang bisa kami upayakan terlebih dahulu," imbuhnya.
Menurut Irawati, layanan kesehatan menjadi kebutuhan penting bagi SRT 1 Kotim karena menerapkan sistem pendidikan berasrama. Siswa tinggal di lingkungan sekolah selama 24 jam sehingga memerlukan akses pemeriksaan dan penanganan kesehatan yang memadai.
Ketersediaan tenaga medis juga diperlukan untuk mengantisipasi siswa yang mengalami gangguan kesehatan saat mengikuti kegiatan belajar maupun menjalani aktivitas sehari-hari di asrama.
Irawati menyebut, Pemkab Kotim akan membahas kebutuhan tersebut bersama perangkat daerah terkait. Pembahasan mencakup kemungkinan layanan dokter kunjung maupun penempatan tenaga kesehatan secara khusus di sekolah.
"Karena ini sekolah berasrama, tentunya keberadaan tenaga kesehatan sangat dibutuhkan. Nanti kami pikirkan lebih lanjut apakah memang perlu ada tenaga kesehatan yang ditempatkan secara khusus di sini," pungkasnya. (DEWI PATMALASARI)









