BORNEONEWS, Sampit – Inflasi month-to-month (m-to-m) di Kota Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), pada Oktober 2026 tercatat sebesar 0,85 persen. Kenaikan harga sejumlah komoditas pangan menjadi salah satu faktor yang memberikan andil terhadap inflasi tersebut.

‎Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kotim, Eddy Surahman, menyampaikan, terdapat lima komoditas yang memberikan andil terbesar terhadap inflasi bulanan di Sampit.

‎"Daging ayam ras menjadi komoditas dengan andil inflasi tertinggi, yakni sebesar 0,17 persen. Disusul ikan nila sebesar 0,14 persen, " debutnya, Selasa, 3 November 2026.

‎Selanjutnya, kacang panjang memberikan andil inflasi sebesar 0,07 persen, tomat sebesar 0,06 persen, serta sigaret kretek mesin (SKM) sebesar 0,05 persen.

‎Sementara itu, komoditas yang memberikan andil terhadap deflasi bulanan adalah ikan tongkol atau ikan ambu-ambu dengan andil sebesar 0,02 persen.

‎BPS mencatat, komoditas andil deflasi m-to-m selain ikan tongkol atau ikan ambu-ambu secara keseluruhan memberikan andil di atas minus 0,01 persen.

‎"Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kelompok komoditas pangan, khususnya daging ayam ras dan ikan nila, turut memengaruhi pergerakan harga di Kota Sampit selama Oktober 2026," ucapnya.

‎Perkembangan inflasi ini menjadi perhatian karena perubahan harga bahan pangan berpengaruh langsung terhadap pengeluaran rumah tangga. Terlebih, komoditas seperti daging ayam dan ikan merupakan bahan pangan yang banyak dikonsumsi masyarakat.

‎"Kami terus melakukan pemantauan perkembangan harga berbagai komoditas sebagai bagian dari penghitungan inflasi daerah, " pungkasnya. (DEVI/j)