BORNEONEWS, SURABAYA – Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir meminta kasus dugaan penyadapan ilegal terhadap sejumlah tokoh, termasuk tokoh organisasi kemasyarakatan (ormas), diusut secara adil, objektif, dan transparan.

"Setiap proses yang ada kaitannya dengan hukum dan proses hukum, tegakkan hukum dengan adil, objektif, dan transparan. Saya yakin ini fondasi kita karena kita negara hukum," kata Haedar seusai menghadiri Musyawarah Nasional (Munas) Majelis Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah di Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura), Kamis (5/11/2026).

Pernyataan tersebut disampaikan menyusul penanganan kasus dugaan penyadapan ilegal oleh Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri. Dalam penyelidikan kasus tersebut, penyidik mengungkap adanya dugaan penyadapan terhadap sejumlah nomor telepon tanpa melalui prosedur yang semestinya.

Sasaran penyadapan diduga mencakup Presiden Prabowo Subianto, pejabat negara, tokoh politik, insan pers, tokoh ormas, lembaga swadaya masyarakat (LSM), hingga kalangan pengusaha.

Kabareskrim Polri Komjen Pol Asep Safrudin menyebut dugaan penyadapan tersebut terjadi dalam kurun waktu 2025 hingga 2026. Dalam penanganan perkara itu, penyidik telah menetapkan tiga orang sebagai tersangka, masing-masing berinisial LSP, ASN, dan EH.

Di sisi lain, Haedar menyatakan dukungannya terhadap kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto agar tetap berjalan sesuai konstitusi serta mengutamakan kepentingan rakyat.

"Kita juga mendukung langkah-langkah Presiden untuk tetap memimpin bangsa dan negara ini berbasis pada konstitusi dan untuk sebesar-besarnya hajat hidup rakyat, untuk persatuan, keadilan, kemakmuran," ujarnya.

Haedar juga mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan tidak terpecah belah dalam menyikapi persoalan tersebut. Ia menilai ruang diskusi dan perbedaan pendapat harus tetap terbuka, tetapi tidak boleh berkembang menjadi konfrontasi antarkelompok.

"Karena sudah ditangani oleh pihak yang berwajib, yang berotoritas, maka masyarakat diminta tenang, tidak terpecah belah. Boleh berdiskusi, berdinamika, tetapi jangan sampai kemudian kita menjadi terbagi-bagi, menjadi dua yang saling berkonfrontasi," tuturnya.

Selain itu, Haedar mengingatkan warga Muhammadiyah untuk terus menjaga organisasi sebagai rumah bersama yang memberikan manfaat bagi masyarakat luas.

"Jadikan Muhammadiyah itu rumah untuk semua, dan Muhammadiyah tetap memberi suluh, memberi manfaat bagi kehidupan orang banyak. Karena banyak masyarakat kita yang juga hidupnya susah, harus dilayani oleh kita semua," katanya.

SUMBER: ANTARA