BORNEONEWS, Kuala Kapuas – Kabupaten Kapuas memiliki luas baku lahan sawah sekitar 45.000 hektare yang tersebar di 12 kecamatan. Hampir separuh dari luasan tersebut berada di empat kecamatan yang selama ini menjadi sentra produksi pangan, yakni Bataguh, Kapuas Kuala, Tamban Catur, dan Kapuas Timur.
Hal itu disampaikan Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Kapuas, Edy Dese, dalam laporan kegiatan penyerahan 100 unit traktor roda dua bantuan Kementerian Pertanian RI di halaman Kantor Dinas Pertanian Kapuas, Jumat, 6 November 2026.
Menurut Edy, empat kecamatan tersebut memiliki peran besar dalam produksi pertanian daerah. Pada Juli 2026 lalu, hamparan lahan sekitar 25.000 hektare di wilayah tersebut juga menjadi lokasi panen raya bersama Gubernur Kalimantan Tengah dan Bupati Kapuas.
"Ini menunjukkan luar biasanya peran serta Bapak dan Ibu petani dalam menyukseskan sektor pertanian di Kabupaten Kapuas," ungkap Edy.
Ia menjelaskan, pengembangan pertanian di Kapuas saat ini berkaitan dengan dua program strategis nasional, yakni optimalisasi lahan dan cetak sawah rakyat. Keduanya memiliki sasaran berbeda, yaitu meningkatkan produktivitas serta indeks pertanaman pada lahan yang tersedia dan menambah luas baku lahan sawah.
Program optimalisasi lahan diarahkan untuk meningkatkan pemanfaatan lahan pertanian agar produktivitasnya lebih baik. Sementara cetak sawah rakyat ditujukan untuk memperluas areal persawahan yang dapat dimanfaatkan untuk kegiatan budidaya padi.
Namun, Edy mengingatkan peningkatan produksi pertanian tidak cukup hanya mengandalkan ketersediaan lahan maupun alat mesin pertanian. Salah satu faktor penting yang turut menentukan keberhasilan budidaya padi adalah pengelolaan tata air.
"Keberhasilan peningkatan produksi pertanian tidak hanya bergantung pada ketersediaan lahan dan alat mesin pertanian, tetapi juga memerlukan dukungan berbagai pihak, khususnya dalam pengelolaan tata air yang sangat menentukan keberhasilan budidaya tanaman padi," jelasnya.
Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri mengingat sebagian besar wilayah pengembangan sawah Kapuas berada di kawasan pasang surut. Karena itu, pengaturan air menjadi salah satu aspek penting dalam mendukung kegiatan tanam dan menjaga produktivitas lahan.
Dengan luas baku sawah sekitar 45.000 hektare, pengembangan sektor pertanian Kapuas tidak hanya berkaitan dengan penambahan alat dan perluasan lahan, tetapi juga membutuhkan pembenahan tata air serta pendampingan petani agar program peningkatan produksi dapat berjalan optimal.
Catatan redaksi: Kedua berita sudah dipisahkan berdasarkan fokus. Berita pertama menonjolkan distribusi dan pemerataan bantuan traktor, sedangkan berita kedua mengangkat data luas sawah, sentra produksi, program strategis, dan persoalan tata air. Keduanya tetap memuat kutipan narasumber tanpa menjadikan sambutan kepala daerah sebagai inti pemberitaan. (SABRIANOOR/y)









